Banjir bandang di Sibolga dan Tapanuli Tengah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar. (Dok. BNPB)
SIBOLGA, WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng) pada akhir November 2025 menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, hingga terputusnya akses jalan nasional. Sejumlah laporan dari media nasional dan internasional mengonfirmasi bahwa hujan ekstrem menjadi pemicu utama bencana, sementara publik kembali menyoroti persoalan kerusakan lingkungan yang dituding memperparah dampaknya.
Berdasarkan laporan akses utama Sibolga – Tapteng masih tertutup material longsor sehingga kendaraan tidak bisa melewati jalur tersebut. Proses pembersihan jalan terhambat akibat kondisi medan yang labil dan masih adanya potensi longsor susulan.
Sementara itu, setidaknya 23 orang meninggal dan puluhan lainnya masih hilang akibat banjir bandang dan longsor yang terjadi di beberapa kabupaten/kota di Sumatra Utara. Ribuan warga terdampak, ratusan rumah rusak, serta beberapa jembatan putus.
Pada kawasan Sumatera Utara mengalami 86 kejadian bencana dalam tiga hari terakhir, termasuk banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Kondisi ini menunjukkan tingginya tekanan hidrometeorologi di wilayah tersebut.
Pemulihan listrik di sejumlah wilayah Sibolga – Tapteng terhambat akibat kerusakan jaringan dan sulitnya akses bagi petugas PLN.
BPBD, TNI/Polri, dan tim relawan terus melakukan evakuasi warga serta pendataan korban. Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat, sementara distribusi logistik difokuskan ke wilayah yang masih bisa dijangkau. Sejumlah titik pengungsian telah dibuka untuk warga yang rumahnya rusak atau berada di lokasi berisiko.
Juru bicara BPBD Tapteng menyebutkan bahwa upaya pencarian korban hilang masih dilakukan secara intensif, meski akses sulit dan cuaca belum stabil.
Hingga kini, faktor utama bencana masih disebut sebagai curah hujan tinggi yang memicu banjir dan longsor pada kawasan perbukitan. Namun sejumlah pakar menilai bahwa kondisi lingkungan yang telah mengalami perubahan signifikan membuat daya tampung air menurun.
Pakar mitigasi bencana menyampaikan bahwa bencana besar umumnya merupakan kombinasi faktor alam dan non-alam. Dalam konteks Sumatera Utara, meningkatnya tekanan pembangunan, perubahan fungsi lahan, serta lemahnya tata kelola lingkungan dapat memperbesar dampak bencana sekalipun pemicunya adalah fenomena cuaca ekstrem.
Sementara itu, isu keterlibatan perusahaan seperti TPL tetap berada dalam ranah tuntutan masyarakat dan aktivis, bukan kesimpulan resmi pemerintah. Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan yang menyebut bahwa kegiatan perusahaan tertentu menjadi penyebab banjir bandang Sibolga–Tapteng.
Banjir bandang yang menimpa Sibolga dan Tapanuli Tengah menjadi pengingat bahwa bencana hidrometeorologi semakin sulit diprediksi di tengah perubahan iklim dan tekanan pembangunan. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri didorong untuk melakukan pembenahan menyeluruh agar bencana serupa tidak kembali menelan korban di masa mendatang. (*Red)
