Bantuan Udara Tapanuli Picu Keluhan Warga. (Tangkapan Layar)
JAKARTA, WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Video warga memunguti beras bantuan bercampur tanah akibat dilempar dari helikopter viral di media sosial. Peristiwa terjadi di lokasi banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Pada awal video yang diunggah akun instagram @jawatimurpopuler, tampak helikopter menjatuhkan beras dan mie instan kepada korban banjir dan longsor. Saat bantuan dijatuhkan, beberapa kemasan beras rusak hingga berceceran di tanah.
Setelah itu, warga beramai-ramai memunguti beras yang bercampur tanah dan menampungnya dengan baju. Dalam narasi video dijelaskan bahwa bantuan tersebut dijatuhkan dari helikopter karena akses menuju wilayah itu tertutup longsor.
Kemudian, warga disebutkan banyak yang kecewa dan berharap penyaluran selanjutnya dilakukan lebih tertib. Narasi menyebut, “Paket bantuan langsung habis berceceran, kondisi ini membuat banyak korban merasa kecewa karena tidak semua mendapatkan bagian,” tulis keterangan video.
Selanjutnya, Ketua Harian Posko Darurat Bencana Pemprov Sumut, Basarin Yunus, memberi penjelasan terkait peristiwa tersebut. Dia mengatakan pemberian bantuan dengan helikopter dilakukan karena kondisi darurat lantaran akses darat tidak bisa dilewati.
Menurut dia, pihaknya terpaksa mengirim bantuan lewat helikopter. Namun tidak semua lokasi memiliki area pendaratan sesuai standar. Karena itu, bantuan harus dilempar dari udara. Basarin menjelaskan, “Tidak semua daerah atau desa-desa yang mempunyai helipad (tempat landasan helikopter),” ujarnya.
Penjelasan tersebut disampaikan saat dia ditanya wartawan di Posko Darurat Bencana, Jalan AH Nasution Kota Medan, Selasa (2/12/2025). Dia menegaskan bahwa menjatuhkan bantuan dari helikopter menjadi cara paling cepat agar warga dapat segera mengakses pangan.
Selain itu, Basarin menyebut pihaknya akan melakukan perbaikan teknis agar bantuan udara sampai dalam kondisi lebih baik. Ia menyatakan, “Namun demikian ada satu dua mungkin yang rusak (bantuan yang dikirim) itu akan kita perbaiki nanti kedepannya, sehingga nanti bisa digunakan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia meminta masyarakat memahami kondisi yang terjadi karena situasinya darurat. Ia mengatakan, “Tapi minimal itu bagaimana niatan kita itu masyarakat bisa mengakses perbekalan ini, sehingga tidak terjadi kekhawatiran di masyarakat. Itu dulu yang paling penting kita atasi karena ini memang kondisinya tidak normal. Jadi SOP nya, juga harus bisa kita pahami seperti itu,” tutupnya.
Sementara itu, data BPBD Sumut mencatat hingga Selasa (2/12/2025) pukul 17.00 WIB, total 290 warga tewas dan 154 hilang akibat banjir dan longsor di Sumatera Utara. Tapanuli Utara menjadi salah satu wilayah terparah dengan 32 korban meninggal, 17 hilang, dan 3.600 warga mengungsi. (*SWN/Red)
