Strategi Proklim RW 013 Sukasari yang Inovatif. (Dok. Pribadi)
TANGERANG, WWW.GOLANUSANTARA.COM – Upaya kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan serta membangun kemandirian pangan di tingkat akar rumput kini tengah menjadi fokus utama bagi masyarakat di wilayah RW 013, Komplek Pengayoman, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang. Melalui inisiasi Program Kampung Iklim (Proklim), wilayah ini berhasil bertransformasi menjadi kawasan hijau yang mandiri, hingga akhirnya mendapatkan apresiasi dan kepercayaan dari Pemerintah Kota Tangerang serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mewakili kota di tingkat nasional. Keberhasilan ini bukanlah sebuah pencapaian yang terjadi secara instan, melainkan hasil dari sinergi yang kuat antara pengurus lingkungan, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan partisipasi aktif seluruh warga setempat. Program yang telah berjalan secara intensif selama kurang lebih dua bulan terakhir ini menitikberatkan pada dua pilar utama, yakni pengelolaan sampah yang terintegrasi dan penguatan ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan perkotaan yang terbatas.
Pemanfaatan lahan di area perkotaan yang identik dengan keterbatasan ruang sering kali menjadi kendala bagi masyarakat untuk bercocok tanam, namun di bawah kepemimpinan Ibu Dra. Hj. Yoyoh Fathurrohmah, M.Pd selaku Ketua Proklim RW 013, hambatan tersebut justru dikonversi menjadi peluang produktif melalui pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT). Dengan memanfaatkan area di sekitar Posyandu dan lahan di UTK, ibu-ibu di lingkungan tersebut kini aktif menanam berbagai jenis komoditas pangan yang bermanfaat bagi konsumsi harian warga. Keberagaman jenis tanaman yang dibudidayakan mencerminkan keseriusan pengelola dalam menjaga ketersediaan gizi bagi masyarakat, di mana saat ini lahan tersebut telah dipenuhi oleh tanaman pangan mulai dari cabai, kangkung, bayam merah, timun, kacang tanah, bawang merah, singkong, hingga ubi. Bahkan, kesuksesan program ini telah dibuktikan dengan adanya panen perdana kangkung dan bayam merah yang kualitasnya tidak kalah dengan hasil pertanian konvensional.
Terkait upaya tersebut, Ibu Yoyoh menjelaskan bahwa fokus utama mereka adalah menyediakan sumber pangan yang sehat dan terjangkau bagi tetangga sekitar dalam skala kecil. Beliau menyatakan, “Kami mencoba untuk membuat, membangun ketahanan pangan ya, tentu dalam skopnya yang kecil ya, masih di tingkat RW.” (04/05/2026). Harapan besar pun digantungkan pada keberlanjutan program ini, terutama dalam aspek kesehatan jangka panjang bagi masyarakat yang mengonsumsi hasil panen tersebut tanpa rasa khawatir akan kandungan zat kimia berbahaya. “Mudah-mudahan dengan kami berupaya untuk melakukan ketahanan pangan ini, warga bisa menikmati sayuran dan buah yang memang tidak terkena pestisida,” tutur Ibu Yoyoh menambahkan dengan penuh optimisme. (04/05/2026).
Selain fokus pada sektor pertanian, RW 013 Kelurahan Sukasari juga menonjolkan keunggulan dalam sistem manajemen sampah yang sangat terorganisir dengan baik. Melalui mekanisme bank sampah yang dilaksanakan secara rutin satu minggu sekali, warga diajak untuk lebih bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga mereka masing-masing setiap harinya. Proses ini dimulai dari pemilahan sampah menjadi dua kategori utama, yakni sampah organik dan anorganik, di mana sampah anorganik yang terkumpul kemudian disetorkan untuk didaur ulang sementara sampah organik dikelola secara mandiri agar tidak menumpuk dan menimbulkan dampak buruk bagi sanitasi lingkungan. Program ini secara tidak langsung telah mengubah paradigma masyarakat yang semula menganggap sampah sebagai beban, kini menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna serta potensi ekonomi jika dikelola secara bijak.
Membangun kesadaran kolektif semacam ini diakui bukan perkara mudah oleh pengurus lingkungan, namun Ibu Yoyoh terus menekankan pentingnya tanggung jawab individu terhadap lingkungan hidup demi masa depan generasi mendatang. Terkait hal tersebut, beliau menegaskan dengan lugas bahwa tanggung jawab kebersihan lingkungan berada di tangan setiap orang yang memproduksi sampah tersebut. “Sebenarnya bukan soal pemulung atau saingan dengan pemulung ya, bukan itu. Tapi yang bikin sampah itu siapa gitu? Kan kita, berarti yang tanggung jawab kita.” (04/05/2026). Pihak pengelola Proklim menyadari sepenuhnya bahwa perubahan perilaku merupakan kunci utama kesuksesan sebuah program lingkungan berkelanjutan, sehingga edukasi dilakukan secara persuasif agar setiap individu merasa memiliki peran dalam menjaga ekosistem tempat tinggalnya mulai dari hal yang paling mendasar. “Warga itu punya kesadaran untuk sama-sama mencintai lingkungan lah dari yang terdekat dulu, sampah di rumah,” ujar Ibu Yoyoh menekankan esensi dari program ini. (04/05/2026).
Implementasi Proklim di RW 013 juga berjalan selaras dengan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, seperti pelayanan kesehatan di Posyandu Balita yang rutin diadakan sebulan sekali serta Posyandu Lansia yang terjadwal setiap minggu bagi para warga senior. Integrasi antara kegiatan lingkungan dan kesehatan ini menciptakan ekosistem sosial yang solid, di mana warga tidak hanya peduli pada kebersihan fisik lingkungan, tetapi juga pada kesejahteraan dan kesehatan sesama anggota masyarakat. Dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang menjadi angin segar bagi warga RW 013 untuk terus meningkatkan standar pengelolaan lingkungan mereka ke level yang lebih tinggi lagi. Dengan status sebagai perwakilan Kota Tangerang di tingkat nasional, RW 013 kini menjadi model percontohan bagi wilayah lain dalam hal kemandirian dan inovasi hijau di tengah tantangan pemanasan global.
Rencana kerja sama publikasi dengan media lokal pun tengah disusun guna memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat luas, sehingga semangat “Kampung Iklim” ini dapat terduplikasi di berbagai penjuru kota lainnya secara masif. Kedepannya, RW 013 berkomitmen untuk terus konsisten dalam melakukan perawatan tanaman setiap hari dan mengoptimalkan bank sampah sebagai instrumen ekonomi sirkular yang memberikan manfaat nyata. Dengan dedikasi para petugas pengelola yang tidak kenal lelah dan semangat gotong royong warga yang masih kental, optimisme untuk meraih prestasi di tingkat provinsi semakin menguat dari waktu ke waktu. Program ini pada dasarnya bukan sekadar mengejar perlombaan atau penghargaan semata, melainkan sebuah langkah nyata dalam mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan serta layak huni bagi generasi mendatang.
Kendati demikian, tantangan untuk mempertahankan konsistensi tetap menjadi perhatian utama bagi seluruh jajaran pengurus RW 013 Sukasari. Namun, dengan adanya wadah seperti Kelompok Wanita Tani yang memberikan ruang bagi ibu-ibu untuk tetap produktif meski dengan lahan seadanya, diharapkan semangat ini tidak akan pernah luntur meskipun terjadi pergantian pengurus nantinya. Melalui Proklim, RW 013 Sukasari telah membuktikan kepada khalayak luas bahwa keterbatasan lahan di wilayah perkotaan bukanlah halangan berarti untuk menciptakan kedaulatan pangan dan lingkungan yang asri. Keberhasilan mereka dalam memilah sampah dan bercocok tanam merupakan bukti autentik bahwa ketika masyarakat bersatu dengan tujuan yang sama, perubahan positif yang signifikan dapat dicapai secara berkelanjutan dan memberikan inspirasi bagi kampung-kampung lainnya di seluruh Indonesia. (*SS/Red)
