Wakil Ketua KPK saat membuka Program PERISAI 2025 KPK untuk penguatan integritas dan antikorupsi sekolah dan madrasah di Jakarta.
GOLANNUSANTARA.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memperkuat upaya pencegahan korupsi lewat jalur pendidikan. Lewat Program Penguatan Integritas dan Antikorupsi (PERISAI) Sekolah 2025, KPK menjadikan sekolah sebagai model pendidikan karakter antikorupsi.
Program ini berlangsung pada 23–25 Juni 2025, diikuti 17 sekolah dari wilayah Jabodetabek. Selama tiga hari, guru-guru mendapat pelatihan intensif di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, Jakarta.
Berbeda dengan program sebelumnya, PERISAI 2025 KPK langsung menyasar guru sebagai penggerak utama integritas.
“Guru tidak harus menjadi penegak hukum, tetapi merekalah penggerak utama dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran dan integritas,” ujar Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo.
KPK menegaskan bahwa pendidikan antikorupsi bukan hanya teori, tetapi harus menjadi kebiasaan di sekolah. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas diharapkan tertanam lewat contoh guru, tata kelola sekolah, dan interaksi siswa.
“Kami ingin pendidikan menjadi garda pertama dalam membangun ekosistem yang mencegah korupsi, bukan hanya menegakkan hukum ketika pelanggaran sudah terjadi,” jelas Dian Novianthi, Direktur Jejaring Pendidikan KPK.
Program ini terintegrasi dengan Stranas PK dan Stranas PAK yang memang fokus pada pencegahan lewat pendidikan.
Beberapa sekolah peserta sudah mulai menerapkan prinsip ini. Di TK Permai, anak-anak dilatih mengembalikan barang temuan.
“Sederhana, tapi ini pendidikan karakter yang kuat,” ucap Kepala TK Permai, Syukur Karunia Indahwati.
Sementara di SMAN 1 Citeureup, penilaian ujian mencakup aspek kejujuran, tanggung jawab, dan kemandirian.
“Kami sudah gunakan parameter ini dalam asesmen ujian,” kata Ika Yanti Sholihah, Wakil Kepala Sekolah.
KPK berharap setiap sekolah yang ikut PERISAI 2025 KPK bisa menjadi model percontohan nasional dan menginspirasi madrasah serta lembaga pendidikan lain.
“Antikorupsi bukan mata pelajaran, tapi sikap hidup. Dan sekolah adalah tempat terbaik untuk menanamkannya sejak dini,” tutup Ibnu Basuki. (*ERM)
