Video viral ibu korban banjir protes tim SAR. (Dok. Tangkapan Layar tiktok @alyssa.knigh)
JAKARTA, WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Peristiwa ibu korban banjir protes tim SAR menjadi viral setelah sebuah video yang menunjukkan seorang perempuan menegur petugas Basarnas beredar luas di platform media sosial. Video yang diunggah oleh warga tersebut memperlihatkan seorang ibu meluapkan emosi dan memprotes dugaan lambatnya proses evakuasi yang dilakukan tim penyelamat.
Selain itu, video tersebut disertai narasi bahwa kejadian berlangsung di wilayah Kabupaten Langkat. Dalam rekaman yang sudah dibagikan ribuan kali itu, terlihat seorang ibu menyampaikan keluhannya dengan suara tinggi. Ia mempertanyakan respons Basarnas yang dianggapnya lambat dalam mengevakuasi warga yang terdampak banjir.
Ketegangan pun sempat terjadi antara perempuan tersebut dan petugas SAR yang sedang bekerja. Suasana dalam video terlihat penuh kepanikan, menggambarkan betapa mendesaknya kondisi yang dihadapi masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, petugas SAR terlihat berusaha tetap fokus melanjutkan proses penyelamatan, sementara beberapa warga lainnya juga terdengar mencoba menenangkan keadaan.
Dari sisi institusi, pernyataan resmi diberikan oleh Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, yang hadir memberikan penjelasan mengenai prosedur kerja tim SAR yang harus diterapkan di lapangan.
Dalam narasi yang tersebar di media sosial, disebutkan lokasi kejadian berada di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Wilayah tersebut memang tengah mengalami cuaca ekstrem dan banjir yang menyebabkan berbagai titik pemukiman terisolasi sehingga memerlukan bantuan evakuasi.
Meski demikian, Basarnas secara institusional tidak secara spesifik menyebutkan lokasi dalam klarifikasinya. Namun, video yang tersebar telah banyak dikaitkan dengan situasi banjir yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.
Hal ini juga disampaikan oleh Edy Prakoso. Ia menjelaskan bahwa personel SAR memiliki SOP ketat dan prioritas yang harus diikuti. Mereka tidak bisa sembarangan bergerak tanpa memperhitungkan kondisi korban dan keselamatan petugas.
“Mereka juga ada tugas harus mengevakuasi, sementara dalam mengevakuasi ini, kita juga ada prioritas-prioritas. Mana sih kelompok-kelompok rentan, ibu-ibu, anak-anak, bayi, dan lain sebagainya.” ujar Edy di Dermaga Inggom, Tanjung Priok, Jakarta, 2 Desember 2025
Ia juga menambahkan bahwa tidak semua warga memahami bagaimana tim SAR bekerja di lapangan. Meski terlihat mondar-mandir, sebenarnya mereka sedang memastikan evakuasi berjalan sesuai rencana prioritas.
“Orang kalau sudah seperti itu, untuk berpikir sehat ya agak susah. Muncul bagaimana dia untuk mempertahankan diri, bagaimana dia untuk bisa hidup,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tekanan dari warga adalah hal biasa, terutama dari keluarga korban yang jasadnya belum ditemukan atau yang belum berhasil dievakuasi.
“Jadi kita juga memahami. Makanya dalam kita menangani korban itu juga harus kita lihat secara fisiologis. Misalnya orang yang keluarganya masih dalam pencarian, terus kita enggak bisa lanjut. Misalnya kejadian malam, kita punya aturan, punya SOP, karena kan keselamatan tim juga harus dijaga.” ujarnya.
“Kan masyarakat kadang-kadang tidak mau tahu. ‘Pokoknya cari malam ini!’, kan justru akan mengorbankan tim kita juga. Tapi ada upaya yang kita laksanakan, pemantauan, kemudian kita sebar di titik-titik,” lanjutnya. (*GTC/Red)
