Viral Wanita Perjalanan Mudik 1.615 Km Demi Healing (Foto : Dok. Instagram @nadiineettt)
TANGERANG, WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Perjalanan mudik 1.615 km yang dilakukan oleh Nadine Tan mendadak viral di media sosial setelah dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, @nadiineettt. Dalam unggahan tersebut, ia mendokumentasikan perjalanan panjang dari Denpasar, Bali hingga Tangerang, Banten, menggunakan sepeda motor.
Tidak seperti kebanyakan orang yang memilih moda transportasi cepat seperti pesawat atau kereta api, Nadine justru memilih untuk berkendara santai selama 12 hari. Keputusan ini pun menarik perhatian warganet karena dinilai tidak biasa, terutama bagi seorang perempuan yang melakukan perjalanan seorang diri.
“POV: mudik Denpasar – Tangerang 1.615 km dalam 12 hari,” tulis akun Instagram @nadiineettt.
Unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 131 ribu likes dan ribuan komentar dari pengguna media sosial yang mengungkapkan kekaguman mereka.
“Keren ih, tapi salfok kakaknya tetep glowing dan tida gosong abis jalan jauuh😭,” takjub akun @mhmdyaan.
“Asik kalo emang niat sambil traveling,” saut akun @brenda.anitaa.
“Woooo…solo touring👏👏👏👏🔥,” kagum akun @ayulianabudiman.
Lebih dari sekadar perjalanan pulang kampung, Nadine mengungkapkan bahwa touring ini merupakan bagian dari proses penyembuhan diri atau healing. Ia menjadikan perjalanan ini sebagai momen refleksi untuk mengenal dirinya lebih dalam.
“Inti dari postingan itu sebenarnya tentang perjalanan self-love dan proses healing aku, kak. Kebetulan aku juga baru sembuh. Dulu aku terbiasa jadi people pleaser, rela berkorban waktu, tenaga, dan perasaan sampai mengesampingkan batasan diriku sendiri demi orang lain,” ungkap Nadine. u
Ia mengaku bahwa selama perjalanan, banyak hal yang ia sadari, terutama mengenai pentingnya memprioritaskan diri sendiri.
“Lewat perjalanan ini dan waktu sendirian di jalan, aku disadarkan bahwa energi, kesetiaan, dan kebaikan yang selama ini habis aku kasih ke orang lain, ternyata jauh lebih layak dan harus aku berikan untuk diriku sendiri,” tambahnya.
Motor bebek kesayangannya yang ia beri nama Yanto menjadi saksi perjalanan tersebut. Kendaraan sederhana itu justru menjadi bagian penting dari proses transformasi dirinya.
Perjalanan mudik 1.615 km ini dimulai pada 25 Februari dan berakhir pada 8 Maret. Selama 12 hari perjalanan, Nadine tidak terburu-buru untuk mencapai tujuan.
Sebaliknya, ia memilih untuk menikmati setiap momen perjalanan dengan singgah di beberapa kota. Di antaranya, ia beristirahat selama dua hari di Banjarnegara dan empat hari di Bandung untuk menjaga kondisi fisiknya.
Nadine mengaku harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu serta kondisi sepeda motor yang sudah berusia lebih dari 10 tahun.
“Namanya solo riding pakai motor bebek, pasti ada aja dramanya. Terutama cuaca yang terik banget tiba-tiba hujan deras. Terus jok motorku nggak pernah diganti selama 12 tahun jadinya gampang bikin pegel,” tuturnya sambil tertawa.
Selain tantangan fisik, ia juga menghadapi tantangan mental yang tidak kalah berat. Bahkan, menurutnya, aspek mental justru menjadi bagian tersulit dalam perjalanan tersebut.
“Tapi jujur hambatan yang paling berat tuh mentalnya kak. Karena sepanjang jalan suka kepikiran hal-hal yang somehow nggak mau kita pikirin, atau dapat perspektif baru dari hal-hal atau pembicaraan kita sama orang lain. Kadang penerimaan diri sendiri atau akan sesuatu yang kita nggak bisa ubah itu yang berat,” akunya jujur.
Namun demikian, ia memilih untuk tidak memaksakan diri. Ketika merasa lelah, ia akan berhenti sejenak untuk beristirahat, menikmati kopi, dan menghirup suasana sekitar.
Meski begitu, Nadine tetap menjaga komunikasi dengan rutin memberikan kabar lokasi setiap kali beristirahat.
Seiring berjalannya waktu, keluarganya pun memberikan dukungan penuh terhadap perjalanan tersebut.
“Nggak apa-apa kalau saat ini kalian lagi ada di fase hidup yang berat, merasa habis-habisan, atau kehilangan arah. Kadang, kita cuma butuh waktu dan ruang sendiri untuk me-reset pikiran. Nggak harus selalu ridingmotor jarak jauh kayak aku, tapi temukanlah ‘ruang aman’ kalian masing-masing. Berani ambil kendali atas kebahagiaanmu sendiri, karena pada akhirnya, diri kita sendiri lah yang paling layak untuk kita perjuangkan.” tutupnya. (*GTC/Red)
