Kampung Pekijing Hidupkan Literasi
BANTEN, GOLANNUSANTARA.COM-Kampung Literasi Pekijing di Kota Serang, Banten, menjadi inisiatif berbasis masyarakat yang berhasil menghidupkan kembali budaya membaca. Gerakan ini dilakukan melalui pendekatan komunitas dan keluarga yang sederhana, namun berdampak luas bagi kehidupan sosial warga. Program ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Namun, literasi juga tumbuh kuat ketika masyarakat terlibat langsung. Mereka menciptakan ruang belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini mendorong kebiasaan membaca secara alami di lingkungan tempat tinggal.
Di wilayah Pekijing, warga membangun rumah-rumah buku kecil di halaman rumah masing-masing. Fasilitas ini menjadi akses terbuka terhadap bahan bacaan. Siapa saja dapat menggunakannya tanpa batasan. Dengan demikian, buku menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat. Inisiatif ini menunjukkan bahwa ruang sederhana dapat menjadi pusat literasi yang hidup. Hal ini terjadi karena kedekatannya dengan interaksi sosial warga. Anak-anak hingga orang tua ikut merasakan manfaatnya. Mereka bahkan tertarik membaca secara spontan.
Masyarakat Kota Serang, Banten, mengembangkan Kampung Literasi Pekijing untuk memperkuat budaya baca berbasis komunitas dan keluarga. Seluruh elemen masyarakat ikut berperan dalam membangun kebiasaan literasi yang berkelanjutan. Inisiatif ini menjadi contoh gerakan literasi yang dibangun secara gotong royong. Dengan begitu, tercipta ekosistem belajar yang menyenangkan. Selain itu, sistem ini mudah diakses oleh semua kalangan. Termasuk anak-anak dan lansia yang ikut merasakan manfaatnya.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa penguatan literasi tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Dibutuhkan partisipasi aktif masyarakat, komunitas, serta keluarga. Semua unsur tersebut harus berada dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Menurutnya, taman bacaan masyarakat memiliki peran penting. Fasilitas ini menjadi jembatan antara ketersediaan buku dan minat baca masyarakat.
“Kami melihat Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan. Anak-anak, orang tua, dan komunitas hadir bersama dalam berbagai aktivitas yang mendorong budaya membaca dan kreativitas di lingkungannya,” ujar Hafidz.
Pernyataan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam memperkuat literasi berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Hafidz juga menilai bahwa praktik baik di Pekijing dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Ruang literasi yang terbuka dan inklusif sangat dibutuhkan. Selain itu, ruang tersebut harus ramah bagi semua kelompok masyarakat. Manfaatnya tidak hanya lokal. Namun juga berpotensi diterapkan di berbagai wilayah Indonesia. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus memberikan dukungan. Pendampingan juga akan dilakukan agar pemanfaatan bahan bacaan semakin optimal.
“Kehadiran komunitas literasi berupa taman bacaan masyarakat dan perpustakaan desa di Pekijing dapat menjadi contoh sekaligus penggerak budaya baca di lingkungan sekitar,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas literasi yang dekat dengan masyarakat dapat meningkatkan akses pengetahuan. Akses tersebut menjadi lebih merata dan berkelanjutan.
Literasi di Kampung Pekijing tidak hanya diwujudkan melalui membaca buku. Kegiatan ini juga melibatkan aktivitas sosial lintas usia. Anak-anak hingga lansia ikut berinteraksi dalam suasana edukatif. Anak-anak mengikuti kegiatan mendongeng, membaca bersama, bermain permainan tradisional, hingga latihan seni dan musik. Semua kegiatan ini bertujuan meningkatkan minat baca dan kreativitas.
Sementara itu, para lansia dilibatkan dalam kegiatan melukis, mewarnai, dan membuat kerajinan tangan. Kegiatan ini menjadi bentuk pemberdayaan yang inklusif. Lansia tetap aktif dalam kegiatan sosial yang produktif. Salah satu kegiatan menarik adalah saat anak-anak membacakan buku untuk lansia yang kesulitan membaca. Aktivitas ini mempererat hubungan antargenerasi. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat kebersamaan di masyarakat.
Pembina Kampung Literasi Pekijing, Edi Suryadi, mengatakan bahwa awalnya penyediaan buku di depan rumah warga diragukan efektivitasnya. Cara ini dianggap terlalu sederhana. Namun, hasilnya justru berbeda. Masyarakat menjadi lebih tertarik membaca.
“Ketika buku-buku ditempatkan di depan rumah dan mudah diakses serta judulnya menarik, masyarakat mulai berani memegang dan membaca buku. Dari situ kami menyadari bahwa masyarakat sebenarnya membutuhkan bahan bacaan yang dekat dengan kehidupan mereka,” kata Edi.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kedekatan akses sangat penting. Faktor ini berpengaruh besar terhadap kebiasaan literasi masyarakat. Melihat respons positif warga, masyarakat kemudian membangun rumah-rumah buku secara mandiri. Lokasinya berada di sepanjang jalan kampung. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan warga dan pengunjung. Kawasan tersebut berkembang menjadi ruang literasi terbuka. Perkembangan ini membuktikan bahwa inisiatif kecil dapat menjadi gerakan sosial besar. Hal ini terjadi ketika mendapat dukungan masyarakat.
arga juga menyediakan permainan tradisional. Tujuannya adalah agar anak-anak lebih aktif bersosialisasi. Anak-anak juga diharapkan tidak bergantung pada gawai. Dengan demikian, keseimbangan antara teknologi dan aktivitas sosial tetap terjaga.
“Kami ingin anak-anak memiliki ruang untuk bermain bersama, membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan kreativitasnya dengan bahagia,” tambahnya. Semangat literasi juga dirasakan anak-anak di Kampung Literasi Pekijing. Anisa, salah satu anak, mengaku kegiatan ini membuat mereka lebih senang membaca. Mereka juga menjadi lebih akrab satu sama lain.
“Kegiatan di kampung literasi membuat kami lebih senang membaca dan lebih dekat satu sama lain. Semoga buku-buku di sini semakin banyak dan anak-anak semakin semangat belajar,” ungkap Anisa. Pendongeng anak, Jujun, juga melihat antusiasme tinggi dari anak-anak. Kegiatan mendongeng selalu mendapat sambutan positif. Ia berharap budaya membaca terus tumbuh di generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Badan Bahasa menyerahkan bantuan buku hasil sayembara. Selain itu, juga diserahkan koleksi buku dari Kantor Bahasa Provinsi Banten. Bantuan ini mendukung penguatan literasi di Pekijing.
Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, dan masyarakat, Kampung Literasi Pekijing menjadi contoh nyata. Budaya membaca dapat tumbuh dari lingkungan sederhana. Selanjutnya, budaya ini berkembang menjadi gerakan sosial. Gerakan ini memperkuat pendidikan dan kreativitas masyarakat secara berkelanjutan.(*ORJ/RED)
