Petugas Damkar Depok Khairul Umam Tetap Terus Buat Konten meski Dapat Teror (Dok. Tangkapan Layar)
JAKARTA, WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Petugas Damkar Depok Khairul Umam Tetap Terus Buat Konten meski Dapat Teror menjadi sorotan publik setelah dirinya menegaskan tidak akan menghentikan aktivitas kreatif di media sosial walau menerima intimidasi. Anggota pemadam kebakaran yang juga dikenal sebagai komika ini menilai konten yang dibuatnya bersifat edukatif dan menghibur, bukan untuk menyindir pihak tertentu.
Peristiwa ini bermula ketika Khairul Umam, anggota Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok, mengunggah video edukasi terkait penggunaan helm sebagai alat pelindung diri (APD). Dalam video tersebut, ia menjelaskan fungsi helm sebagai pelindung kepala dalam situasi berisiko, terutama dalam tugas penyelamatan dan pemadaman kebakaran.
Namun demikian, setelah video itu beredar luas di media sosial, sebagian warganet mengaitkannya dengan kasus dugaan kekerasan yang melibatkan oknum dari Korps Brimob Polri. Konten tersebut kemudian dianggap menyinggung peristiwa seorang pelajar yang dilaporkan meninggal dunia setelah diduga dipukul menggunakan helm.
Padahal, menurut Khairul, video tersebut murni bersifat edukatif sekaligus dikemas dengan gaya komedi khas dirinya sebagai komika. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menyindir atau menyinggung pihak mana pun.
“Enggak, enggak berhenti. Karena konten yang saya buat emang buat lucu-lucuan dan buat funny aja gitu,” ujar Khairul Umam.
Khairul Umam dikenal sebagai anggota pemadam kebakaran di Kota Depok yang aktif membuat konten di media sosial. Selain menjalankan tugas sebagai abdi negara, ia juga aktif di komunitas stand-up comedy dan kerap memadukan unsur edukasi serta humor dalam unggahannya.
Secara khusus, motif utama pembuatan konten tersebut adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya penggunaan alat pelindung diri. Sebagai petugas lapangan, ia menyadari risiko kerja yang tinggi dan ingin mengedukasi publik melalui pendekatan yang ringan dan mudah dipahami.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa konten yang dibuat juga selaras dengan perannya sebagai komika. Humor digunakan sebagai medium komunikasi agar pesan edukatif lebih mudah diterima masyarakat luas.
Teror yang diterima Khairul muncul setelah kontennya dikaitkan dengan isu sensitif yang sedang menjadi perhatian publik. Meskipun tidak menyebut pihak tertentu, narasi dalam video tersebut dianggap oleh sebagian pihak memiliki keterkaitan dengan kasus dugaan kekerasan yang melibatkan anggota Korps Brimob Polri.
Akibatnya, Khairul menerima pesan bernada intimidatif melalui aplikasi WhatsApp. Pesan tersebut awalnya datang dari seseorang yang mengaku sebagai penggemarnya. Namun, komunikasi tersebut kemudian berubah menjadi ancaman terselubung.
“Ternyata ujung-ujungnya malah bilang saya harus pake helm, jaga keselamatan saya, suruh minta sowan sama orang tua saya gitu-gitu,” katanya.
Situasi tersebut menunjukkan bagaimana konten di era digital dapat dengan cepat ditafsirkan secara berbeda oleh publik. Di satu sisi, kreator memiliki kebebasan berekspresi. Di sisi lain, respons masyarakat bisa berkembang di luar kendali.
Setelah peristiwa itu mencuat, banyak warganet berusaha mencari akun media sosial pribadi Khairul, baik di Instagram maupun TikTok. Akibatnya, kolom komentar pada akun-akunnya dipenuhi berbagai tanggapan, mulai dari dukungan hingga komentar bernada negatif.
Ia mengakui bahwa komentar intimidatif lebih banyak muncul di TikTok dibandingkan Instagram. Meski demikian, ia memilih untuk tidak menanggapi komentar-komentar tersebut.
“Di TikTok tuh banyak tuh yang komen. Kalau di IG tidak terlalu banyak, di TikTok banyak dan saya nggak tanggepin,” kata dia.
Langkah untuk tidak membalas komentar negatif tersebut dinilai sebagai bentuk pengendalian diri di tengah tekanan publik. Dalam konteks komunikasi digital, respons yang emosional justru berpotensi memperkeruh situasi.
Di tengah tekanan yang muncul, Khairul mengaku mendapatkan dukungan luas dari berbagai pihak. Dukungan tersebut datang dari warganet, rekan sesama komika, hingga komunitas pemadam kebakaran tempat ia bertugas.
“Kalau dari teman stand-up, Alhamdulillah dari teman-teman di komunitas stand-up juga pada nanyain. Saya pun berkonsultasi dengan Presiden stand-up Indo juga. Alhamdulillah masih pada respect komunitas apaagi kalau teman-teman di Damkar malah rame,” katanya.
Dukungan moral tersebut, menurutnya, menjadi energi positif untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Ia merasa tidak sendirian menghadapi tekanan yang muncul.
“Banyak orang-orang yang support masih ngedukung saya. Itu jadi kayak energi ketika banyak sindiran sana sini,” ungkap Khairul
Hingga saat ini, Khairul menegaskan tidak akan menghentikan aktivitas pembuatan konten. Ia tetap konsisten memproduksi konten yang bersifat edukatif dan menghibur. Namun demikian, ia juga menyadari pentingnya kehati-hatian dalam memilih narasi agar tidak menimbulkan multitafsir.
Secara prinsip, ia menilai kebebasan berekspresi tetap harus dijalankan secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, ke depan ia berkomitmen untuk tetap mengedukasi masyarakat mengenai keselamatan kerja dan fungsi alat pelindung diri, tanpa mengaitkannya dengan isu sensitif yang sedang berkembang.
Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi refleksi mengenai dinamika komunikasi digital di Indonesia. Konten yang dibuat dengan niat edukatif dapat dengan cepat berubah menjadi polemik ketika dikaitkan dengan isu aktual yang sensitif.
Kasus ini menyoroti tantangan yang dihadapi aparatur negara yang aktif di media sosial. Di satu sisi, media sosial menjadi sarana edukasi publik yang efektif. Namun di sisi lain, risiko disalahartikan atau dikaitkan dengan isu sensitif juga semakin besar.
Selain itu, fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi digital di tengah masyarakat. Penafsiran yang tidak utuh terhadap suatu konten dapat memicu kesalahpahaman hingga intimidasi.
Dengan demikian, langkah Khairul untuk tetap tenang dan tidak terpancing provokasi menjadi contoh bagaimana menghadapi tekanan di ruang digital. Ia memilih fokus pada niat awalnya, yakni mengedukasi dan menghibur. Kasus Khairul Umam Dapat Teror menjadi refleksi penting mengenai risiko profesi publik yang aktif di media sosial. (*HA/Red)
