Wamendagri Penugasan Praja IPDN misi kemanusiaan dan kebangsaan (Foto : Tangkapan Layar)
JAKARTA, GOLANNUSANTARA.COM – Penugasan Praja IPDN misi kemanusiaan dan kebangsaan ditegaskan sebagai bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat sekaligus upaya memperkuat persatuan bangsa di tengah situasi bencana yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa kontribusi para praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Kabupaten Aceh Tamiang tidak sekadar menjalankan misi kemanusiaan, melainkan juga mengemban misi kebangsaan. Penegasan tersebut menjadi pesan penting dalam rangka memperkuat semangat persatuan serta tanggung jawab generasi muda aparatur negara terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
“ini bukan saja misi kemanusiaan tetapi ini (juga) adalah misi kebangsaan,” kata Bima Arya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Pernyataan itu disampaikan usai memimpin Apel Pelepasan Pemulangan Praja IPDN Gelombang II di Bandara Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Momentum tersebut menjadi simbol berakhirnya masa tugas gelombang kedua sekaligus refleksi atas capaian kerja nyata selama berada di wilayah terdampak bencana.
Penugasan Praja IPDN di Aceh Tamiang melibatkan ribuan personel untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana melalui pembersihan kantor pemerintahan, normalisasi dusun terdampak lumpur, serta penguatan kembali pelayanan publik dan aktivitas perekonomian masyarakat selama 67 hari masa tugas.
Menurut Bima, kehadiran praja dari berbagai daerah di Indonesia di wilayah terdampak bencana bukan hanya untuk membantu pemulihan pemerintahan, tetapi juga merekatkan dimensi kebangsaan.Para praja dituntut mampu beradaptasi secara cepat dengan budaya dan kehidupan masyarakat setempat agar proses pemulihan berjalan efektif.
Penugasan tersebut juga dinilai sebagai kawah candradimuka bagi para praja. Mereka ditempa secara langsung melalui berbagai persoalan di lapangan yang menuntut kesiapan fisik maupun mental.
“Fisik diuji, nyali diuji, kesabaran diuji, kemampuan komunikasi juga diuji, kemampuan toleransi juga diuji,” ujarnya.
Pengalaman tersebut diyakini akan menjadi bekal berharga ketika kelak mereka memegang amanah sebagai pemimpin di berbagai tingkatan pemerintahan. Kebersamaan dengan masyarakat yang tengah bangkit dari bencana menjadi modal penting untuk membangun empati serta kepemimpinan yang responsif terhadap kebutuhan rakyat.
“Ingatlah bahwa memberikan kontribusi dan menjadi berarti adalah tugas utama kalian,” kata Bima.
Arahan itu menegaskan bahwa pengabdian bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan administratif, melainkan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Sesuai arahan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, pengiriman praja ke Aceh Tamiang belum berakhir. Akan ada pemberangkatan Praja IPDN Gelombang III untuk melanjutkan proses pemulihan yang telah dilakukan. Kebijakan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah pusat dalam memastikan pemulihan berjalan berkelanjutan hingga kondisi benar-benar stabil.
“Dalam waktu 67 hari kita bisa melihat bagaimana Aceh Tamiang berubah wajah dan denyut kesehariannya. Kantor pemerintahan kembali buka untuk melayani publik, roda perekonomian kembali bergerak, dan warga kembali lalu-lalang,” tuturnya.
Sebagai informasi, dari dua gelombang penugasan, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah mengerahkan 1.890 personel ke Aceh Tamiang. Jumlah tersebut terdiri atas 1.582 praja IPDN dan sisanya merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemendagri.
Selama bertugas, mereka berhasil membersihkan serta memulihkan 37 kantor pemerintahan. Khusus Gelombang II, penugasan difokuskan pada pemulihan empat dusun yang terdampak lumpur.
Kantor pemerintahan yang sebelumnya terdampak lumpur kini kembali berfungsi sebagai pusat pelayanan masyarakat. Aktivitas ekonomi yang sempat terhenti perlahan bergerak kembali, memberikan harapan baru bagi warga.
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dari dua gelombang penugasan telah dikerahkan 1.890 personel ke Aceh Tamiang. Jumlah tersebut terdiri atas 1.582 praja IPDN dan sisanya merupakan ASN Kemendagri. Selama bertugas, mereka berhasil membersihkan serta memulihkan 37 kantor pemerintahan yang terdampak bencana.
Khusus Gelombang II, penugasan difokuskan pada pemulihan empat dusun yang terdampak lumpur. Pembersihan infrastruktur, normalisasi fasilitas publik, hingga pendataan kebutuhan warga menjadi bagian dari tugas yang dijalankan secara terstruktur. Upaya tersebut dilakukan agar pelayanan dasar masyarakat dapat kembali berjalan tanpa hambatan.
Melalui interaksi langsung dengan masyarakat yang menghadapi kesulitan, para praja belajar memahami kompleksitas persoalan di daerah. Pembelajaran ini dinilai penting untuk membentuk pemimpin yang tidak hanya kompeten secara administratif, tetapi juga peka terhadap kondisi sosial.
Kehadiran praja dari berbagai latar belakang daerah memperkuat semangat Bhinneka Tunggal Ika. Mereka hidup dan bekerja bersama masyarakat Aceh Tamiang, menghargai adat istiadat setempat, serta menjalin komunikasi yang harmonis. Sinergi tersebut memperlihatkan bahwa semangat kebangsaan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata di lapangan.
Perkembangan pemulihan di Aceh Tamiang, agar masyarakat dapat mengikuti dinamika kebijakan dan langkah pemerintah secara menyeluruh dan berimbang.
Dengan berbagai capaian tersebut, Wamendagri Penugasan Praja IPDN misi kemanusiaan dan kebangsaan bukan sekadar slogan, melainkan representasi nyata dari komitmen pemerintah dalam membangun solidaritas dan mempercepat pemulihan daerah terdampak bencana. Pengalaman di Aceh Tamiang menjadi bukti bahwa kolaborasi, disiplin, serta semangat pengabdian mampu menghadirkan perubahan signifikan dalam waktu relatif singkat. (*ORJ/Red)
