BNPB Siapkan Hujan Buatan Atasi Karhutla(Dok. Perhutani)
JAKARTA, WWW.GOLANNUSANTARA.COM – BNPB siapkan hujan buatan untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur. Langkah ini dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dipadukan dengan pemadaman dari udara atau water bombing. Upaya tersebut bertujuan menjangkau titik api di lereng gunung yang sulit diakses melalui jalur darat sekaligus mencegah kebakaran meluas ke kawasan sekitarnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah tersebut setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait. Rapat koordinasi penanganan karhutla dipimpin langsung oleh Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Polda Jawa Timur, serta Pemerintah Kota Batu. Pertemuan tersebut berlangsung di Balai Kota Among Tani, Kota Batu, untuk membahas strategi penanganan kebakaran secara terpadu.
Dalam koordinasi tersebut, BNPB menekankan pentingnya pengerahan berbagai sumber daya agar proses pemadaman berjalan lebih efektif. Selain mengandalkan personel gabungan di lapangan, pemerintah juga mengoptimalkan dukungan udara dan rekayasa cuaca. Kombinasi langkah ini diharapkan mampu mengurangi intensitas kebakaran, mempercepat pendinginan kawasan terdampak, serta menekan risiko munculnya kembali titik api.
Kepala BNPB menjelaskan bahwa dukungan armada udara tambahan dan modifikasi cuaca menjadi bagian penting dalam strategi penanganan karhutla. Menurutnya, kedua upaya tersebut diperlukan untuk menjangkau wilayah yang memiliki medan terjal dan tidak mudah dilalui petugas.
“Dukungan armada udara tambahan beserta intervensi modifikasi cuaca ini kami optimalkan untuk memicu percepatan pemadaman, terutama pada titik-titik kobar api di medan terjal yang tak terjangkau jalur darat. Target kita adalah melokalisasi api agar dampaknya di wilayah Jawa Timur segera teratasi,” ungkap Letjen TNI Kristomei Sianturi dalam keterangan yang dikutip, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran di Gunung Arjuno-Welirang membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi geografis. Sebab, titik api yang berada di lereng curam dapat menyulitkan pergerakan personel dan distribusi air. Oleh karena itu, dukungan udara menjadi salah satu pilihan untuk mempercepat penanganan di lokasi yang sulit dijangkau.
Berdasarkan kalkulasi sementara BNPB, total area lereng Gunung Arjuno-Welirang yang terbakar diperkirakan telah mencapai lebih dari 260 hektare. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu melaporkan sekitar 24,06 hektare di antaranya berada dalam wilayah administratif Kota Batu.
Perbedaan cakupan angka tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran tidak hanya menjadi persoalan satu wilayah administratif. Penanganannya membutuhkan koordinasi lintas kawasan, terutama karena area terdampak berada di bentang alam pegunungan yang saling terhubung. Dengan demikian, setiap perkembangan kondisi kebakaran perlu dipantau secara bersama agar penentuan prioritas pemadaman dapat dilakukan secara tepat.
Besarnya luas kawasan yang terbakar juga menjadi perhatian karena vegetasi kering dapat mempercepat penyebaran api. Ketika kondisi lingkungan mendukung, kobaran api berpotensi menjalar ke area lain yang memiliki bahan bakar alami serupa. Situasi tersebut menuntut petugas untuk tidak hanya memadamkan titik api yang terlihat, tetapi juga mengantisipasi kemungkinan munculnya titik kebakaran baru.
Di sisi lain, proses pemadaman membutuhkan evaluasi secara berkala. Petugas harus memastikan bahwa area yang telah berhasil dipadamkan tidak kembali terbakar akibat bara api yang masih tersisa. Karena itu, pengawasan dan pendinginan pascapemadaman menjadi bagian penting dari upaya pengendalian karhutla di kawasan Gunung Arjuno-Welirang.
Operasi Modifikasi Cuaca menjadi salah satu langkah yang disiapkan BNPB untuk membantu mempercepat penanganan kebakaran. Melalui rekayasa cuaca, pemerintah berupaya meningkatkan peluang terjadinya hujan pada wilayah sasaran apabila kondisi atmosfer mendukung. Hujan yang turun di kawasan terdampak diharapkan dapat membantu membasahi vegetasi kering dan mengurangi potensi penyebaran api.
Meskipun demikian, pelaksanaan hujan buatan tidak dapat dilepaskan dari kondisi meteorologis. Keberhasilannya bergantung pada ketersediaan awan yang sesuai, kandungan air di atmosfer, serta faktor cuaca lainnya. Oleh sebab itu, operasi tersebut memerlukan analisis dan pemantauan dari pihak yang memiliki kompetensi di bidang meteorologi.
Dalam penanganan kebakaran di kawasan pegunungan, hujan buatan dapat menjadi dukungan bagi upaya pemadaman langsung. Namun, langkah ini bukan pengganti kerja petugas di lapangan. Personel darat dan armada udara tetap diperlukan untuk menangani titik api, mengamankan area terdampak, serta memastikan api tidak kembali menyala setelah hujan turun.
Kepala BNPB menegaskan bahwa rekayasa cuaca memiliki peran penting untuk membantu membasahi lereng secara lebih luas. Langkah tersebut juga diharapkan mendukung proses pendinginan setelah petugas melakukan pemadaman langsung.
“Realisasi hujan buatan lewat rekayasa cuaca ini menjadi faktor krusial untuk membasahi area lereng secara masif. Dengan demikian, proses pendinginan pascapemadaman darat dapat berlangsung jauh lebih cepat dan menyeluruh,” kata Kristomei.
Dengan dukungan tersebut, pemerintah berharap proses pengendalian kebakaran dapat berjalan lebih optimal. Kendati demikian, efektivitas setiap metode tetap perlu dievaluasi berdasarkan kondisi lapangan. Pemantauan berkelanjutan dibutuhkan untuk mengetahui apakah titik api berhasil dikendalikan dan apakah masih terdapat area yang memerlukan penanganan tambahan.
Salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla Gunung Arjuno-Welirang adalah kondisi topografi kawasan. Lereng yang curam, akses yang terbatas, serta jarak antartitik api dapat menghambat pergerakan personel. Akibatnya, petugas membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar untuk menjangkau lokasi kebakaran.
Regu gabungan di darat dilaporkan telah berhasil memadamkan sejumlah titik api. Namun, keberhasilan tersebut belum tentu berarti seluruh kawasan terdampak telah aman. Pada area dengan vegetasi kering, bara yang tersisa di dalam serasah atau material organik dapat memicu kebakaran kembali apabila tidak ditangani secara menyeluruh.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pemadaman darat perlu didukung dengan pemetaan lokasi kebakaran dan penentuan prioritas penanganan. Titik api yang berpotensi meluas harus mendapatkan perhatian khusus. Selain itu, petugas perlu memperhatikan keselamatan personel ketika melakukan operasi di wilayah yang memiliki medan sulit.
Penggunaan water bombing dapat membantu menjangkau lokasi yang tidak mudah didatangi melalui jalur darat. Dalam metode ini, air dijatuhkan dari udara ke area yang terbakar untuk membantu menekan kobaran api. Meski demikian, pelaksanaannya memerlukan perencanaan yang matang, termasuk pemilihan sasaran, pengamatan kondisi angin, serta koordinasi antara awak pesawat dan tim di lapangan.
Kombinasi pemadaman darat, dukungan udara, dan modifikasi cuaca diharapkan mampu melengkapi satu sama lain. Dengan strategi terpadu, petugas dapat memusatkan upaya pada titik api yang paling berisiko sekaligus melakukan pendinginan di area yang telah ditangani.
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menyebabkan kerusakan vegetasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dari pembakaran dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga. Apabila paparan berlangsung dalam intensitas tinggi, risiko gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dapat meningkat.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, perlu mendapatkan perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk. Karena itu, perkembangan kebakaran dan kondisi lingkungan di sekitar kawasan terdampak perlu dipantau secara berkala. Informasi yang akurat dapat membantu masyarakat menyesuaikan aktivitas dan mengurangi paparan asap.
Selain kesehatan, karhutla juga dapat memengaruhi kegiatan ekonomi daerah. Apabila kebakaran meluas atau asap menyebar ke kawasan permukiman dan pusat aktivitas, sejumlah kegiatan masyarakat berpotensi terganggu. Sektor pariwisata di sekitar kawasan pegunungan juga dapat terdampak apabila kondisi lingkungan dinilai tidak aman bagi pengunjung.
Aktivitas pendidikan pun perlu menjadi perhatian apabila kualitas udara menurun atau kondisi di sekitar sekolah terpengaruh oleh asap. Dalam situasi tertentu, pihak berwenang dapat mempertimbangkan langkah perlindungan berdasarkan perkembangan kondisi setempat. Oleh sebab itu, koordinasi antara pemerintah daerah, petugas kebencanaan, dan masyarakat menjadi penting untuk mengurangi risiko lanjutan.
Dampak tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Pemerintah juga perlu memperhatikan keselamatan warga, penyampaian informasi kebencanaan, serta langkah pencegahan agar kebakaran tidak menimbulkan kerugian yang lebih luas.
Selain memperkuat upaya pemadaman, BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Imbauan ini disampaikan untuk mencegah munculnya sumber api baru, terutama ketika vegetasi berada dalam kondisi kering dan risiko kebakaran meningkat.
Pembakaran lahan yang tidak terkendali dapat memicu kebakaran lebih luas. Api yang awalnya kecil berpotensi menjalar akibat angin, kondisi vegetasi, dan karakteristik permukaan tanah. Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di sekitar lingkungan mereka.
Pencegahan juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Warga, pengelola kawasan, komunitas setempat, dan aparat terkait dapat berperan dalam pengawasan lingkungan. Selain itu, penyebaran informasi mengenai bahaya pembakaran terbuka perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memahami risiko yang dapat ditimbulkan.
BNPB juga menegaskan bahwa tindakan yang terbukti memicu kebakaran secara sengaja akan ditindak sesuai ketentuan hukum. Kepala BNPB menyampaikan peringatan tegas terhadap pihak yang melakukan pembakaran lahan dan menyebabkan kerusakan lingkungan.
“Apabila ditemukan indikasi kesengajaan oleh oknum yang membakar lahan, kita pastikan yang bersangkutan langsung dicokok dan diserahkan kepada kepolisian untuk diproses pidana secara tegas. Tidak ada ruang ampun bagi pembuat kerusakan,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas, tetapi juga pada kepatuhan masyarakat terhadap aturan. Penindakan hukum terhadap pelanggaran yang terbukti dilakukan diharapkan dapat memberikan efek pencegahan dan mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran serupa.
Upaya BNPB dalam menangani karhutla Gunung Arjuno-Welirang mengandalkan koordinasi lintas instansi dan pemanfaatan berbagai metode pemadaman. Dukungan armada udara, operasi modifikasi cuaca, serta kerja petugas di darat menjadi bagian dari strategi untuk mengendalikan api di kawasan yang memiliki akses terbatas.
Besarnya area terdampak menunjukkan perlunya penanganan yang konsisten dan terukur. Pemerintah perlu memastikan perkembangan titik api dipantau, area yang telah dipadamkan diperiksa kembali, dan langkah pencegahan terus dijalankan. Di samping itu, perlindungan terhadap masyarakat dari paparan asap harus tetap menjadi bagian dari prioritas penanganan.
Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian kebakaran bergantung pada kerja sama antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat. Dukungan hujan buatan diharapkan membantu mempercepat pembasahan kawasan, sedangkan pemadaman langsung tetap diperlukan untuk mengatasi titik api. Melalui pendekatan terpadu dan kewaspadaan bersama, risiko meluasnya karhutla di Gunung Arjuno-Welirang diharapkan dapat ditekan.(*HA/RED)
