Mendikdasmen Tinjau MPLS Ramah Murid
JAKARTA, GOLANNUSANTARA.COM– MPLS murid baru menjadi langkah yang terus dikawal oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Program ini bertujuan memastikan seluruh murid baru memperoleh pengalaman pertama yang menyenangkan saat memasuki lingkungan sekolah. Pemerintah juga ingin menciptakan proses adaptasi yang aman, nyaman, dan bebas dari tekanan. Dengan demikian, peserta didik dapat mengenal lingkungan sekolah, guru, teman, serta budaya belajar dengan lebih percaya diri sejak hari pertama.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meninjau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di SDN Srengseng Sawah 15. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan aman, nyaman, dan menyenangkan. Harapannya, murid baru dapat memulai perjalanan pendidikan dengan rasa percaya diri dan penuh semangat.
Dalam kunjungannya, Abdul Mu’ti mengikuti kegiatan Pagi Ceria bersama para siswa. Kegiatan itu diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan doa bersama. Ia juga berdialog dengan murid kelas I yang tengah menjalani hari-hari pertama di bangku sekolah dasar. Abdul Mu’ti kemudian menyerahkan buku sebagai bentuk dukungan terhadap semangat belajar mereka. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa proses pengenalan lingkungan sekolah tidak hanya berorientasi pada penyampaian informasi. Program ini juga bertujuan membangun kedekatan emosional antara peserta didik dan lingkungan belajar agar anak-anak merasa diterima sejak awal.
Mendikdasmen mengatakan, pelaksanaan MPLS Ramah yang berjalan baik merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, kepolisian, tenaga pendidik, psikolog, hingga orang tua dan masyarakat.
“Alhamdulillah, suasana hari ini terlihat ceria dan anak-anak sudah kembali bersemangat untuk belajar. Tentu kondisi ini merupakan hasil dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari kepolisian, Dinas Pendidikan, Himpunan Psikologi, para bapak dan ibu guru, orang tua, hingga jajaran RT dan RW. Semua bersama-sama memastikan pelaksanaan MPLS Ramah berjalan dengan lancar,“kata Abdul Mu’ti.
Kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan program pendidikan. Setiap unsur memiliki peran yang saling melengkapi. Dukungan tersebut mencakup penciptaan rasa aman, pendampingan psikologis, serta komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga. Langkah ini membantu proses adaptasi anak berlangsung lebih optimal.
Ia menegaskan, MPLS Ramah merupakan bagian dari upaya Kemendikdasmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan ramah anak. Program ini membantu murid mengenal lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana menanamkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Anak-anak tampak gembira dan tidak menunjukkan rasa takut. Inilah yang ingin terus kita tumbuhkan sesuai dengan semangat dan kebijakan MPLS Ramah. Kami juga ingin anak-anak memiliki kebiasaan yang baik, menjalani pergaulan yang sehat, serta bijak menggunakan gawai agar dapat tumbuh dan belajar secara optimal,“lanjutnya.
Penerapan kebiasaan positif sejak masa pengenalan sekolah diharapkan mampu membentuk karakter peserta didik. Anak-anak tidak hanya berkembang dari sisi akademik. Mereka juga belajar disiplin, bertanggung jawab, mampu bersosialisasi, dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Abdul Mu’ti turut mengapresiasi peran orang tua yang mendampingi anak-anak pada masa awal masuk sekolah. Menurutnya, keterlibatan keluarga menjadi faktor penting dalam membantu proses adaptasi murid. Dukungan orang tua mampu meningkatkan rasa percaya diri anak saat menghadapi lingkungan baru. Kehadiran keluarga juga memberikan rasa aman dan memperkuat kesiapan mental mereka untuk mengikuti pembelajaran.
Untuk memperkuat pelaksanaan MPLS Ramah, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Kerja sama tersebut dilakukan melalui pendampingan psikologis bagi murid, guru, dan orang tua. Pendampingan itu juga disertai penyuluhan agar orang tua mampu memberikan dukungan emosional kepada anak. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif.
Pendampingan psikologis menjadi salah satu langkah strategis. Masa transisi dari pendidikan anak usia dini menuju sekolah dasar sering menghadirkan tantangan baru bagi peserta didik. Kehadiran tenaga profesional diharapkan membantu anak mengatasi rasa cemas. Mereka juga dapat meningkatkan kemampuan beradaptasi serta memberikan pemahaman kepada guru dan orang tua mengenai cara mendampingi anak secara tepat.
Mendikdasmen juga mengimbau seluruh pihak untuk menjaga privasi murid. Ia meminta masyarakat tidak menyebarluaskan informasi yang berpotensi menimbulkan tekanan psikologis terhadap anak. Imbauan tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan hak anak tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah. Setiap pihak juga diharapkan lebih bijak menggunakan media sosial maupun platform komunikasi digital.
Sementara itu, Kepala SDN Srengseng Sawah 15, Kamtono, mengatakan sekolah telah menyiapkan pelaksanaan MPLS Ramah sejak sebelum tahun ajaran baru dimulai. Berbagai kegiatan dirancang untuk membantu murid baru beradaptasi secara bertahap. Persiapan tersebut meliputi penyusunan agenda, koordinasi bersama tenaga pendidik, serta penyesuaian metode pengenalan sekolah. Langkah itu dilakukan agar seluruh peserta didik dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman.
“Peralihan dari TK ke SD merupakan proses yang membutuhkan penyesuaian. Karena itu kami berupaya mempersiapkan mental anak-anak agar siap mengikuti pembelajaran dan merasa nyaman berada di lingkungan sekolah,“ujar Kamtono.
Menurutnya, keberhasilan masa pengenalan sekolah tidak hanya diukur dari kelancaran kegiatan. Keberhasilan juga terlihat dari kemampuan peserta didik membangun rasa percaya diri, mengenal aturan sekolah, serta berinteraksi secara positif dengan guru dan teman-teman baru. Dengan begitu, proses belajar dapat berlangsung lebih maksimal. Kamtono menambahkan, sekolah terus mengedepankan komunikasi dan kolaborasi dengan orang tua dalam mendampingi murid yang membutuhkan perhatian khusus.
“Sekolah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan orang tua. Karena itu, kita harus bergandengan tangan. Orang tua memiliki peran di rumah, sementara kami memiliki tanggung jawab di sekolah. Bersama-sama kita menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak,“ucapnya.
Komunikasi yang terjalin secara terbuka antara sekolah dan keluarga diyakini mampu mempercepat penyelesaian berbagai tantangan selama proses adaptasi. Setiap anak dapat memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya. Dengan cara itu, murid dapat belajar tanpa merasa tertekan ataupun terabaikan.
Melalui mpls murid baru, pemerintah berharap setiap anak memperoleh pengalaman belajar yang aman. sinergi antara pemerintah, sekolah, keluarga, Polri, HIMPSI, dan masyarakat, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap murid memperoleh layanan pendidikan dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan ramah anak. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih berkualitas. Pemerintah juga ingin menciptakan pengalaman belajar yang positif sejak hari pertama sekolah. Langkah ini diharapkan mendukung terwujudnya generasi yang berkarakter, cerdas, dan berdaya saing. (*ORJ/RED)
