Tim SAR Cari Jurnalis Hilang.(Dok.IST)
WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Pencarian jurnalis hilang kontak di Perairan Selat Sunda memasuki hari ketiga dengan perkembangan baru setelah Tim SAR Gabungan menemukan sebuah life jacket atau jaket pelampung serta benda yang diduga sebagai pelampung. Temuan tersebut diperoleh ketika petugas memperluas penyisiran terhadap delapan orang yang berada dalam speed boat dan hilang kontak saat melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau, Banten.
Operasi pencarian dilakukan secara intensif karena hingga hari ketiga delapan orang yang terdiri dari rombongan jurnalis dan kru kapal belum ditemukan. Tim SAR memperluas wilayah pencarian untuk meningkatkan peluang menemukan keberadaan para korban sekaligus menelusuri berbagai kemungkinan arah pergerakan speed boat setelah kehilangan kontak.
Penemuan life jacket tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam operasi pencarian. Benda itu ditemukan oleh KAL Anyer saat melakukan penyisiran di wilayah perairan Selat Sunda pada Kamis, 10 September 2026. Berdasarkan laporan operasi, temuan tersebut berada di area pencarian yang menjadi bagian dari sektor penyisiran Tim SAR Gabungan.
Pada saat ditemukan, life jacket tersebut belum memiliki identitas yang dapat memastikan bahwa benda itu merupakan perlengkapan milik rombongan jurnalis yang sedang dicari. Karena itu, Tim SAR tidak langsung menyimpulkan keterkaitan antara temuan tersebut dengan delapan orang yang hilang kontak. Proses pemeriksaan dan verifikasi tetap dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.
Dalam pencarian jurnalis hilang kontak tersebut, Tim SAR Gabungan juga menemukan benda lain di sekitar lokasi life jacket. Benda itu berupa pelampung yang disebut menyerupai botol berwarna putih. Keberadaan dua benda tersebut kemudian menjadi bagian dari informasi yang ditindaklanjuti oleh petugas untuk mengetahui asal-usul dan kemungkinan hubungannya dengan speed boat yang hilang.
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani menjelaskan bahwa life jacket ditemukan ketika KAL Anyer melakukan operasi pencarian. Temuan tersebut kemudian diamankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Langkah itu diperlukan karena lokasi penemuan tidak serta-merta menunjukkan bahwa benda tersebut berasal dari kapal yang membawa rombongan jurnalis.
Selain itu, kondisi perairan yang luas membuat proses identifikasi barang temuan menjadi bagian penting dalam operasi SAR. Berbagai benda yang mengapung di laut dapat berpindah mengikuti arus dan kondisi gelombang. Oleh sebab itu, setiap temuan harus diperiksa secara cermat sebelum dijadikan petunjuk utama dalam pencarian.
Pada hari ketiga, wilayah operasi pencarian juga diperluas menjadi enam sektor. Total area yang disisir mencapai sekitar 2.483 nautical mile persegi. Luas wilayah tersebut menunjukkan besarnya cakupan operasi yang harus dilakukan oleh tim gabungan untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian.
Untuk menjangkau area yang luas tersebut, operasi melibatkan berbagai unsur dan sarana. Kapal digunakan untuk melakukan penyisiran langsung di permukaan laut, sementara unsur udara dikerahkan untuk membantu pengamatan dari wilayah yang lebih luas. Selain itu, unsur TNI, Polri, nelayan, serta masyarakat turut dilibatkan dalam pencarian.
Keterlibatan banyak unsur menjadi penting karena pencarian di wilayah laut memiliki tantangan tersendiri. Tim tidak hanya harus memperhitungkan luas wilayah, tetapi juga kondisi cuaca, arah angin, arus laut, jarak pandang, serta kemungkinan perubahan posisi objek yang berada di permukaan air. Dengan demikian, koordinasi antara seluruh unsur menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan operasi.
Rombongan yang dicari sebelumnya dilaporkan hilang kontak setelah berangkat menggunakan speed boat dari wilayah pesisir Banten. Mereka diketahui melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan aktivitas peliputan. Kapal tersebut membawa delapan orang, termasuk lima jurnalis dan tiga kru kapal.
Sebelum keberangkatan, pemilik kapal menyatakan bahwa speed boat yang digunakan berada dalam kondisi layak berlayar. Kapal tersebut juga disebut memiliki dokumen perizinan dan perlengkapan keselamatan, termasuk life jacket. Informasi tersebut menjadi bagian dari penelusuran untuk mengetahui kondisi kapal sebelum akhirnya kehilangan kontak di perairan Selat Sunda.
Kehilangan kontak kemudian mendorong dilakukannya operasi pencarian dan pertolongan. Tim SAR bergerak melakukan penyisiran berdasarkan informasi terakhir mengenai keberadaan rombongan. Seiring berjalannya waktu, area pencarian diperluas untuk mengantisipasi kemungkinan adanya perubahan posisi akibat arus dan kondisi perairan.
Dalam situasi tersebut, setiap temuan di laut menjadi informasi yang harus diperiksa. Penemuan life jacket dan pelampung pada hari ketiga sempat menjadi perhatian karena kedua benda tersebut berkaitan dengan perlengkapan keselamatan yang lazim digunakan dalam pelayaran. Namun, Tim SAR tetap berhati-hati dan tidak langsung menghubungkannya dengan rombongan yang hilang.
Sikap tersebut diperlukan untuk menghindari kesimpulan yang belum didukung hasil pemeriksaan. Tim SAR harus memastikan karakteristik benda, lokasi penemuan, serta kemungkinan asal barang sebelum menjadikannya petunjuk dalam operasi. Proses verifikasi juga menjadi penting karena wilayah Selat Sunda merupakan perairan yang memiliki aktivitas pelayaran cukup tinggi.
Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, informasi mengenai life jacket tersebut kemudian berkembang. Pada Jumat, 11 September 2026, Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menyatakan bahwa life jacket berwarna oranye dan pelampung berwarna putih yang ditemukan dalam operasi pencarian tidak berkaitan dengan perlengkapan keselamatan kapal yang ditumpangi para jurnalis.
Keterangan tersebut juga diperkuat oleh pemilik kapal Arupadatu 1, Sandi. Ia memastikan bahwa life jacket yang ditemukan Tim SAR berbeda dengan perlengkapan keselamatan yang dimiliki kapalnya. Dengan demikian, temuan tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa petugas telah menemukan perlengkapan milik rombongan jurnalis yang hilang.
Meskipun demikian, pencarian terhadap delapan orang tersebut tetap dilanjutkan. Tim SAR Gabungan masih melakukan penyisiran berdasarkan sektor yang telah ditentukan serta menggunakan berbagai sarana untuk memperluas jangkauan pencarian. Informasi dari nelayan dan masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting dalam upaya menemukan petunjuk baru.
Operasi pencarian di laut pada dasarnya membutuhkan ketelitian dan kesinambungan. Kondisi objek yang berada di permukaan air dapat berubah akibat gelombang dan arus, sehingga petugas harus terus memperbarui informasi mengenai area yang telah disisir. Karena itu, perluasan sektor pencarian menjadi salah satu strategi untuk memperbesar kemungkinan ditemukannya korban maupun kapal yang hilang.
Selain pencarian menggunakan kapal, penggunaan sarana udara juga membantu petugas mengamati wilayah yang sulit dijangkau dari permukaan laut. Dengan dukungan teknologi dan koordinasi antarlembaga, proses pencarian dapat dilakukan secara lebih terarah. Setiap informasi yang masuk kemudian dianalisis untuk menentukan langkah berikutnya.
Hingga perkembangan terakhir, keberadaan delapan orang yang hilang kontak masih menjadi fokus utama Tim SAR Gabungan. Penemuan life jacket dan pelampung pada hari ketiga sempat memberikan petunjuk baru, tetapi hasil verifikasi menunjukkan bahwa kedua benda tersebut bukan bagian dari perlengkapan keselamatan kapal rombongan jurnalis.
Karena itu, pencarian jurnalis hilang kontak di Perairan Selat Sunda masih membutuhkan penyisiran secara menyeluruh. Tim gabungan terus berupaya menemukan titik keberadaan rombongan dengan mengandalkan kapal, sarana udara, personel TNI dan Polri, nelayan, serta masyarakat yang berada di sekitar wilayah pencarian.
Perkembangan operasi tersebut menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan delapan orang yang hingga kini belum ditemukan. Tim SAR diharapkan dapat memperoleh petunjuk baru yang lebih kuat untuk menentukan posisi rombongan dan mempercepat proses pencarian. Sementara itu, setiap informasi mengenai temuan di lapangan tetap harus melalui proses verifikasi agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Dengan luas area pencarian mencapai sekitar 2.483 nautical mile persegi dan terbagi dalam enam sektor, operasi tersebut menjadi salah satu upaya besar untuk menemukan rombongan yang hilang kontak di Selat Sunda. Tim SAR Gabungan bersama seluruh unsur yang terlibat masih melakukan pencarian secara intensif sambil terus memperbarui informasi berdasarkan kondisi di lapangan. (*HA/RED)
