Tim SAR memperluas pencarian korban.(Dok.IST)
WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Pencarian korban Selat Sunda memasuki hari kedelapan setelah insiden speedboat Arupadhatu 1 hilang kontak di perairan antara pesisir Carita dan kawasan Gunung Anak Krakatau, Banten. Tim SAR gabungan memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari hingga Kamis, 17 September 2026, untuk menemukan lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih dinyatakan hilang.
Operasi pencarian tersebut menjadi semakin krusial karena sejumlah petunjuk telah ditemukan di sekitar area kejadian. Oleh karena itu, tim SAR gabungan terus memperluas penyisiran, baik melalui jalur laut maupun darat. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur yang memiliki kemampuan pencarian dan pertolongan di wilayah perairan.
Insiden bermula ketika speedboat Arupadhatu 1 yang membawa rombongan untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bertolak dari Dermaga Pagedongan/Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, sekitar 42 menit kemudian, tepatnya pukul 14.42 WIB, kapal tersebut dilaporkan hilang kontak.
Lokasi terakhir kapal diketahui berada di koordinat antara pesisir Carita dan kawasan Anak Krakatau. Sejak laporan kehilangan kontak diterima, operasi pencarian langsung dilakukan dengan mengerahkan unsur SAR gabungan. Hingga memasuki Selasa, 15 September 2026, pencarian masih terus dilakukan untuk menemukan seluruh penumpang yang belum diketahui keberadaannya.
Memasuki hari kedelapan, strategi pencarian diperluas dengan membagi wilayah operasi menjadi dua sektor utama, yakni penyisiran laut dan penyisiran darat. Pembagian tersebut dilakukan untuk memperbesar cakupan wilayah pencarian sekaligus mengantisipasi kemungkinan korban atau material kapal terbawa arus menuju lokasi lain.
Kegiatan pencarian pada Selasa pagi diawali dengan apel dan doa bersama yang berlangsung sekitar pukul 07.05 WIB di Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten. Setelah kegiatan tersebut, unsur SAR langsung bergerak menuju sektor masing-masing sesuai dengan rencana operasi yang telah ditentukan.
Untuk pencarian melalui jalur laut, unsur SAR mengerahkan kapal RIB 02 yang diberangkatkan dari Dermaga Marina Carita sekitar pukul 07.15 WIB. Armada tersebut menjadi bagian dari operasi pencarian yang melibatkan 18 kapal dari berbagai unsur.
Kekuatan armada laut tersebut terdiri atas unsur Basarnas, TNI AL, dan Polairud. Beberapa kapal yang dilibatkan antara lain KN SAR Tetuka, KN SAR Antasena, KN SAR Basudewa, serta KRI Leuser. Selain kapal pencarian, operasi juga mendapatkan dukungan dari satu unit helikopter yang digunakan untuk melakukan pemantauan dari udara.
Dengan dukungan armada tersebut, penyisiran dilakukan secara lebih luas di wilayah perairan yang dianggap memiliki kemungkinan berkaitan dengan lokasi terakhir speedboat. Pemantauan dari udara juga menjadi bagian penting karena dapat membantu tim melihat area yang lebih luas dalam waktu relatif singkat.
Sementara itu, pencarian melalui jalur darat dilakukan di sepanjang garis pantai. Area penyisiran difokuskan mulai dari kawasan Carita hingga perairan Anyer. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi apabila korban ataupun serpihan material kapal terbawa arus laut dan kemudian mencapai wilayah pesisir.
Penyisiran darat juga menjadi bagian penting dalam operasi karena kondisi arus dan gelombang dapat menyebabkan posisi korban maupun benda-benda yang berkaitan dengan kapal berpindah dari titik awal kejadian. Karena itu, pencarian tidak hanya berpusat di lokasi terakhir kapal dilaporkan hilang kontak.
Dalam pelaksanaan operasi, tim SAR juga menghadapi sejumlah kendala alam. Kondisi cuaca di wilayah perairan Selat Sunda dapat berubah dengan cepat. Selain itu, gelombang laut yang tinggi, arah angin yang sulit diprediksi, serta jarak pandang yang terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi personel yang melakukan pencarian.
Kondisi tersebut semakin kompleks karena lokasi pencarian berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Kabut vulkanik yang muncul di sekitar kawasan tersebut dapat mengurangi jarak pandang dan memengaruhi proses pemantauan. Oleh sebab itu, keselamatan personel tetap menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan pola pencarian.
Meskipun menghadapi berbagai kendala, tim SAR gabungan tetap melanjutkan operasi dengan menyesuaikan strategi berdasarkan kondisi lapangan. Setiap unsur menjalankan tugas sesuai sektor yang telah ditentukan agar proses pencarian dapat berlangsung secara terkoordinasi.
Kepala Seksi Operasi (Kasi Ops) Basarnas Banten, Rizky Dwianto, menyampaikan harapan agar seluruh korban dapat ditemukan dalam kondisi selamat. Ia juga meminta dukungan moril dari berbagai pihak bagi personel yang masih menjalankan operasi pencarian.
“Semoga Tuhan senantiasa memberikan kesehatan untuk kita semua. Kemudian memberikan keselamatan dan kemudahan untuk seluruh tim SAR gabungan dalam melaksanakan pencarian sehingga untuk kapal ataupun penumpang yang kita cari selama ini bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” ujar Rizky Dwianto di sela-sela apel siaga.
Pernyataan tersebut menggambarkan harapan besar tim SAR dalam melanjutkan operasi pencarian. Di tengah kondisi medan yang tidak mudah, seluruh personel tetap berupaya menemukan delapan orang yang masih belum diketahui keberadaannya.
Adapun delapan korban yang masih dalam pencarian terdiri atas tiga orang dari unsur awak kapal dan guide serta lima orang jurnalis. Dari unsur awak kapal dan guide, korban yang masih dicari adalah Warta, yang merupakan kapten kapal berusia 55 tahun; Surakman, ABK berusia 60 tahun; serta Heriyanto, guide berusia 49 tahun.
Sementara itu, lima jurnalis yang masih dalam pencarian yaitu M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudistiro Pranoto atau Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.
Keberadaan para jurnalis tersebut diketahui berkaitan dengan kegiatan peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Mereka berada dalam rombongan yang menggunakan speedboat Arupadhatu 1 sebelum kapal tersebut kehilangan kontak di perairan Selat Sunda.
Dengan demikian, operasi pencarian tidak hanya menjadi upaya untuk menemukan korban, tetapi juga menjadi bentuk tanggung jawab kemanusiaan terhadap seluruh orang yang berada dalam kapal tersebut. Setiap perkembangan di lapangan terus menjadi perhatian karena pencarian telah memasuki fase penting setelah berlangsung selama delapan hari.
Perpanjangan masa operasi selama tiga hari dilakukan untuk memberikan waktu tambahan kepada tim SAR gabungan dalam memperluas pencarian. Operasi yang sebelumnya berlangsung hingga Selasa, 15 September 2026, kini diperpanjang sampai Kamis, 17 September 2026.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa proses pencarian masih terus diupayakan dengan mempertimbangkan berbagai informasi dan petunjuk yang ditemukan selama operasi. Tim SAR akan terus mengevaluasi perkembangan kondisi lapangan untuk menentukan langkah berikutnya.
Di sisi lain, perluasan wilayah pencarian menjadi penting mengingat karakteristik perairan Selat Sunda yang dipengaruhi oleh arus, angin, dan gelombang. Kondisi tersebut memungkinkan benda maupun korban berpindah dari lokasi awal. Karena itu, penyisiran darat dan laut dilakukan secara bersamaan agar kemungkinan ditemukannya korban dapat semakin besar.
Keterlibatan 18 kapal dari berbagai unsur juga menunjukkan besarnya sumber daya yang dikerahkan dalam operasi tersebut. Selain kapal, dukungan helikopter memberikan kemampuan tambahan bagi tim untuk melakukan pengamatan dari udara. Koordinasi antara unsur Basarnas, TNI AL, Polairud, dan elemen terkait menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pencarian.
Selanjutnya, tim di lapangan juga harus memperhitungkan faktor keselamatan selama menjalankan tugas. Gelombang tinggi dan perubahan cuaca dapat meningkatkan risiko bagi personel maupun armada pencarian. Oleh karena itu, penyisiran dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi perairan dan kemampuan masing-masing unsur.
Masyarakat juga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap proses pencarian dengan menyampaikan informasi apabila menemukan benda, serpihan kapal, atau tanda lain yang diduga berkaitan dengan insiden tersebut. Informasi dari masyarakat dapat membantu memperluas sumber data yang digunakan tim dalam menentukan area pencarian.
Sampai hari kedelapan operasi, fokus utama tetap menemukan lima jurnalis dan tiga kru yang masih hilang. Tim SAR gabungan terus bergerak di wilayah laut maupun darat dengan harapan seluruh korban dapat segera ditemukan.
Perpanjangan operasi hingga Kamis, 17 September 2026 menjadi kesempatan tambahan bagi seluruh unsur yang terlibat untuk mengoptimalkan pencarian. Dengan dukungan armada laut, pemantauan udara, serta penyisiran sepanjang garis pantai, tim SAR berupaya memperluas kemungkinan ditemukannya korban.
Pada akhirnya, pencarian korban Selat Sunda masih menjadi operasi kemanusiaan yang membutuhkan koordinasi, ketelitian, dan ketahanan seluruh personel di lapangan. Basarnas bersama TNI AL, Polairud, dan unsur terkait berkomitmen melanjutkan pencarian hingga batas waktu operasi yang telah ditetapkan.
Operasi tersebut diharapkan dapat memberikan hasil positif bagi keluarga korban, rekan kerja, serta seluruh pihak yang menantikan kabar mengenai keberadaan delapan orang yang masih hilang. Hingga pencarian berakhir pada 17 September 2026, seluruh unsur SAR akan terus berupaya menemukan korban dengan tetap mengutamakan keselamatan personel dan efektivitas pencarian. (*HA/RED)
