Pratikno Perkuat Perlindungan Anak Nasional
JAKARTA, WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Pratikno dorong ruang aman anak menjadi komitmen pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak Indonesia dari berbagai bentuk kekerasan. Melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA), pemerintah berupaya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak, baik di lingkungan keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, maupun ruang digital. Upaya tersebut dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan kementerian, pemerintah daerah, tenaga pendidik, kader di lapangan, hingga media massa agar perlindungan anak dapat dirasakan secara nyata di seluruh Indonesia.
Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat perlindungan anak melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA). Program ini terus disosialisasikan kepada masyarakat sebagai langkah nyata untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh hak hidup, tumbuh, berkembang, serta mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan yang dapat menghambat masa depannya.
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno. Menurutnya, keberadaan ruang aman dan nyaman merupakan fondasi penting dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, serta memiliki daya saing tinggi di masa mendatang.
Dalam keterangannya, Pratikno menjelaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus menciptakan lingkungan yang aman di rumah, tetapi juga memastikan perlindungan anak hadir di berbagai tempat mereka beraktivitas. Oleh karena itu, Gernas RANA terus digencarkan agar menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Kami kesekian kalinya menegaskan gerakan nasional membangun, menjamin ruang aman dan nyaman untuk anak. Aman dan nyaman di keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital,” kata Pratikno dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 6 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memandang perlindungan anak sebagai tanggung jawab bersama. Tidak hanya keluarga yang memiliki kewajiban menjaga anak, tetapi juga lembaga pendidikan, pemerintah, masyarakat, hingga pelaku industri digital memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman.
Selain itu, pemerintah menilai bahwa upaya membangun sumber daya manusia unggul harus dimulai sejak anak-anak. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap anak menjadi salah satu fondasi utama dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Pratikno menjelaskan bahwa penguatan perlindungan anak juga selaras dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program strategis, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan. Kedua sektor tersebut dinilai menjadi faktor utama dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas.
Menurutnya, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan aman akan memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang secara optimal. Sebaliknya, anak yang mengalami kekerasan berpotensi menghadapi berbagai persoalan yang berdampak panjang terhadap kehidupannya.
“Jangan boleh ada kekerasan terhadap anak, karena kekerasan itu punya dampak yang luar biasa, bukan hanya secara fisik, psikis, dan kognitif, tetapi kekerasan juga akan melahirkan trauma, dan melahirkan kekerasan baru nanti ke depannya,” ucapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dampak kekerasan terhadap anak tidak berhenti pada luka fisik semata. Trauma psikologis yang dialami anak dapat memengaruhi perkembangan emosi, kemampuan berpikir, hingga kesehatan mental dalam jangka panjang. Bahkan, pengalaman buruk tersebut berpotensi memicu siklus kekerasan baru ketika anak tumbuh dewasa apabila tidak mendapatkan pendampingan yang tepat.
Karena alasan itulah pemerintah terus mengedepankan pendekatan preventif melalui edukasi kepada masyarakat. Dengan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya perlindungan anak, diharapkan angka kekerasan terhadap anak dapat ditekan secara signifikan.
Di sisi lain, pemerintah juga memberikan perhatian serius terhadap perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Digitalisasi yang berkembang bersama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menghadirkan banyak manfaat bagi masyarakat. Namun demikian, perkembangan tersebut juga membawa tantangan baru yang harus diantisipasi, khususnya dalam melindungi anak-anak di ruang digital.
Anak-anak saat ini memiliki akses yang semakin luas terhadap internet dan berbagai platform digital. Kondisi tersebut membuka peluang mereka memperoleh informasi positif, tetapi sekaligus meningkatkan risiko terpapar konten negatif, perundungan siber, eksploitasi daring, hingga berbagai bentuk kejahatan digital lainnya.
Oleh sebab itu, pemerintah menilai bahwa ruang digital harus menjadi bagian penting dari ekosistem perlindungan anak. Keamanan digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, melainkan juga menyangkut kesehatan mental, perkembangan kognitif, serta pembentukan karakter anak.
“Sejalan dengan digitalisasi, apalagi perkembangan AI, ruang aman digital ini juga menjadi perhatian serius kita, karena dampaknya bukan hanya terhadap fisik, tetapi juga terhadap kognitif, terhadap kesehatan mental anak,” tuturnya.
Pemerintah berharap masyarakat, khususnya orang tua, semakin meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak. Pendampingan saat menggunakan internet dinilai menjadi langkah penting agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.
Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran strategis dalam membangun literasi digital. Guru diharapkan mampu memberikan edukasi mengenai etika bermedia sosial, keamanan digital, serta kemampuan mengenali berbagai potensi ancaman di dunia maya sehingga anak dapat menggunakan teknologi secara bijaksana.
Untuk memastikan implementasi Gernas RANA berjalan efektif, pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut dilakukan karena perlindungan anak tidak dapat dijalankan oleh satu lembaga saja, melainkan membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
Pratikno menjelaskan bahwa berbagai kementerian telah memiliki jaringan hingga ke tingkat daerah yang dapat dimanfaatkan sebagai instrumen pelaksanaan program perlindungan anak. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat penyebaran edukasi sekaligus memperkuat pengawasan terhadap berbagai potensi kekerasan terhadap anak.
“Instrumen yang ada di lapangan adalah aparat pemerintah yang ada di daerah, misalnya Kemendikdasmen punya perangkat hingga di daerah, Kemendukbangga/BKKBN punya kader di daerah, dan tentu saja kita bekerja sama dengan Kemendagri,” jelasnya.
Melalui kerja sama tersebut, pemerintah berharap program perlindungan anak dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap informasi maupun layanan perlindungan anak.
Kolaborasi lintas sektor juga dinilai penting untuk memperkuat respons terhadap berbagai kasus kekerasan anak. Dengan adanya koordinasi yang baik, setiap laporan dapat ditindaklanjuti secara lebih cepat sehingga korban memperoleh perlindungan dan pendampingan secara optimal.
Tidak hanya mengandalkan pemerintah dan masyarakat, Pratikno juga memberikan apresiasi kepada insan media yang selama ini berperan aktif dalam menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya perlindungan anak. Media dinilai memiliki pengaruh besar dalam membangun kesadaran publik sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Melalui pemberitaan yang edukatif, media dapat membantu menyampaikan pesan-pesan positif mengenai pengasuhan yang baik, pencegahan kekerasan terhadap anak, hingga pentingnya menciptakan lingkungan yang aman di berbagai ruang kehidupan.
Selain itu, media juga menjadi sarana efektif untuk mengawasi pelaksanaan kebijakan pemerintah sekaligus memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat mengenai berbagai program perlindungan anak yang sedang dijalankan.
Pemerintah optimistis bahwa semakin kuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, keluarga, masyarakat, dan media, maka semakin besar pula peluang menciptakan ekosistem perlindungan anak yang menyeluruh.
Ke depan, Gernas RANA diharapkan tidak hanya menjadi sebuah program pemerintah, tetapi juga berkembang menjadi gerakan nasional yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Dengan demikian, setiap anak Indonesia dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, sehat, serta bebas dari segala bentuk kekerasan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Melalui langkah tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa perlindungan anak menjadi bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan. Anak-anak yang terlindungi sejak dini diyakini akan tumbuh menjadi generasi unggul yang mampu berkontribusi bagi kemajuan Indonesia di masa depan.(*HA/RED)
