Pencarian Korban KM Virgo Berlanjut
WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Evakuasi KM Virgo memasuki hari ke-16 dengan total 179 orang berhasil ditemukan dari 243 penumpang dan awak kapal yang tercatat dalam manifes. Dari jumlah tersebut, 108 orang dinyatakan selamat, sementara 71 orang ditemukan meninggal dunia dan 64 orang lainnya masih dalam proses pencarian. Proses evakuasi masih menghadapi kendala teknis karena kondisi bangkai kapal di dasar laut yang labil dan terus mengalami perubahan kemiringan.
Tragedi KM Virgo Transport 8 terjadi di perairan Laut Jawa setelah kapal yang membawa ratusan penumpang tersebut mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin pada 13 September 2026. Sejak kejadian tersebut, operasi pencarian dan pertolongan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI Angkatan Laut, Polri, pemerintah daerah, hingga unsur potensi SAR.
Berdasarkan pembaruan data hingga Senin, 28 September 2026 malam, lima korban kembali ditemukan oleh tim penyelam gabungan dari dalam badan kapal. Penemuan tersebut menambah jumlah korban yang berhasil dievakuasi menjadi 179 orang. Dari angka itu, sebanyak 108 orang berhasil diselamatkan dan 71 orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, 64 orang lainnya masih belum ditemukan dan menjadi sasaran pencarian berikutnya.
Lima korban yang ditemukan pada hari ke-16 merupakan hasil penyelaman yang dilakukan tim gabungan di sekitar dan bagian badan kapal yang tenggelam. Setelah berhasil dikeluarkan dari lokasi, empat jenazah dievakuasi menuju KRI Gusti Ngurah Rai, sedangkan satu korban dibawa ke KN SAR Purworejo. Selanjutnya, seluruh jenazah diterbangkan menuju Banjarmasin menggunakan armada helikopter untuk menjalani proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
Proses pencarian tersebut dilakukan secara bertahap karena kondisi di lokasi kejadian memiliki tingkat risiko yang tinggi. Selain berada di dasar laut, bangkai KM Virgo Transport 8 mengalami perubahan posisi dan kemiringan sehingga penyelam harus memperhitungkan kondisi struktur sebelum memasuki bagian tertentu dari kapal. Karena itu, proses evakuasi tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan hanya dilakukan pada bagian yang dinilai dapat dijangkau dengan tingkat keamanan yang memungkinkan.
“Stabilitas bangkai kapal yang terus berubah menuntut kehati-hatian ekstra demi melindungi keselamatan personel penyelam di lapangan,” demikian keterangan perwakilan otoritas penyelamatan.
Kondisi tersebut membuat proses evakuasi korban menjadi lebih kompleks. Pada tahap awal operasi, penyelam harus menghadapi kondisi perairan, visibilitas yang terbatas, serta struktur kapal yang telah berada di dasar laut. Dalam perkembangan berikutnya, pencarian juga difokuskan pada area sekitar badan kapal karena masih terdapat dugaan korban yang berada di bagian interior.
Sementara itu, operasi penyelaman pada hari ke-16 berlangsung melalui beberapa sorti. Berdasarkan laporan operasi, tim penyelam gabungan melakukan penyisiran secara intensif sejak pagi hingga sore. Tim yang terlibat antara lain personel Basarnas Special Group, TNI Angkatan Laut, serta unsur potensi SAR. Lima jenazah yang ditemukan kemudian langsung dipindahkan untuk mendapatkan penanganan dan identifikasi sesuai prosedur.
Dengan jumlah korban yang masih dalam pencarian mencapai 64 orang, operasi SAR belum berhenti. Tim gabungan masih melakukan penyisiran terhadap sejumlah area yang dinilai memiliki kemungkinan ditemukannya korban. Selain penyelaman, pencarian juga didukung dengan pemantauan wilayah perairan serta koordinasi dengan berbagai unsur yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Operasi pencarian KM Virgo Transport 8 juga melibatkan dukungan terhadap wilayah Kalimantan Tengah. Basarnas menyebut penyebaran informasi kepada kapal-kapal yang melintasi jalur kejadian turut dilakukan melalui Vessel Traffic Services (VTS). Langkah tersebut bertujuan agar kapal yang berada di sekitar jalur pelayaran dapat memberikan bantuan apabila menemukan tanda atau keberadaan korban.
Di sisi lain, proses identifikasi korban terus berjalan di RS Bhayangkara Banjarmasin. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan pada Senin, 28 September 2026, kembali mengidentifikasi 16 jenazah. Dengan penambahan tersebut, jumlah korban yang telah diketahui identitasnya mencapai 41 orang. Sebanyak 15 jenazah yang baru teridentifikasi merupakan laki-laki dan satu lainnya perempuan.
Identifikasi tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan pascakecelakaan. Selain memastikan identitas korban, proses DVI juga menjadi dasar bagi penyerahan jenazah kepada keluarga. Tim melakukan pencocokan data sebelum dan sesudah kematian untuk memastikan identitas korban secara tepat.
Salah satu korban yang telah teridentifikasi adalah Sugianto asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Identifikasi terhadap korban menjadi bagian dari rangkaian proses yang dilakukan tim DVI bersama pihak terkait untuk memastikan setiap jenazah dapat dikenali dan dikembalikan kepada keluarga masing-masing.
Di tengah proses pencarian dan identifikasi tersebut, keluarga korban masih menunggu kepastian mengenai anggota keluarga mereka yang belum ditemukan. Dengan 64 orang masih dalam pencarian, operasi SAR menjadi perhatian utama karena setiap perkembangan di lokasi dapat memberikan informasi baru mengenai keberadaan korban.
Selain pencarian korban, penanganan terhadap bangkai kapal juga menjadi bagian penting dalam proses selanjutnya. Kondisi bangkai yang tidak stabil membuat proses evakuasi dari bagian interior kapal memiliki risiko tersendiri. Oleh karena itu, langkah pengangkatan bangkai kapal atau salvage menjadi salah satu opsi yang diperlukan untuk membantu menjangkau area yang sulit dimasuki penyelam secara langsung.
Upaya tersebut juga membutuhkan dukungan peralatan khusus. Peralatan pendukung salvage, termasuk kapal tunda dan crane barge, dipersiapkan untuk mendukung operasi apabila pengerahan dilakukan. Penggunaan perangkat tersebut diharapkan dapat membantu membuka akses terhadap bagian kapal yang sebelumnya sulit dijangkau sekaligus mengurangi risiko terhadap personel yang bekerja di bawah air.
Namun demikian, setiap tahapan pengangkatan bangkai kapal tetap harus mempertimbangkan kondisi struktur dan lingkungan sekitar. Perubahan posisi bangkai kapal di dasar laut dapat menimbulkan risiko tambahan apabila proses pengangkatan dilakukan tanpa perencanaan teknis yang matang. Karena itu, koordinasi antara pemilik kapal, perusahaan asuransi Protection and Indemnity (P&I), tim penyelamat, serta pihak yang memiliki kemampuan salvage menjadi bagian penting dalam menentukan langkah berikutnya.
Kementerian Perhubungan juga telah meminta pemilik kapal dan pihak asuransi P&I untuk mengoptimalkan upaya pengangkatan bangkai kapal. Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung proses pencarian korban yang kemungkinan masih berada di dalam bagian kapal yang sulit dijangkau.
Sementara itu, penanganan aspek hukum kecelakaan KM Virgo Transport 8 juga terus berjalan. Polri telah melimpahkan perkara tersebut dari Polda Kalimantan Selatan kepada Mabes Polri melalui Direktorat Polisi Perairan Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolair Korpolairud) Baharkam Polri. Pelimpahan ini dilakukan untuk melanjutkan proses penyelidikan dan penyidikan terkait kecelakaan kapal tersebut.
Sebelum perkara dilimpahkan, Polda Kalimantan Selatan telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak yang berkaitan dengan kejadian. Pemeriksaan tersebut mencakup nakhoda, anak buah kapal yang selamat, serta pihak lain yang dinilai memiliki informasi mengenai kecelakaan. Selanjutnya, proses penanganan perkara diteruskan oleh Mabes Polri untuk mendalami berbagai aspek yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
“Sejak awal kejadian, Polri bersama Basarnas, TNI, dan stakeholder terkait telah melakukan langkah-langkah mitigasi dan penanganan secara terpadu, baik dalam mendukung operasi SAR, evakuasi dan pelayanan kepada korban maupun keluarga korban, maupun dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Untuk proses perkaranya, saat ini telah dilimpahkan ke Mabes Polri melalui Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan,” ujar Johnny Eddizon Isir.
Penyelidikan tersebut nantinya menjadi bagian dari proses untuk mendalami berbagai fakta terkait kecelakaan KM Virgo Transport 8. Pemeriksaan dilakukan untuk mengumpulkan informasi mengenai rangkaian kejadian, termasuk aspek yang berkaitan dengan operasional kapal serta pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan peristiwa tersebut.
Hingga memasuki hari ke-16, operasi SAR KM Virgo Transport 8 masih menjadi fokus utama karena puluhan korban belum ditemukan. Data terakhir menunjukkan 179 orang telah ditemukan dari 243 orang yang tercatat dalam manifes, dengan rincian 108 orang selamat dan 71 orang meninggal dunia. Adapun 64 orang lainnya masih dalam pencarian.
Dengan kondisi bangkai kapal yang masih labil, proses pencarian membutuhkan kehati-hatian sekaligus strategi yang disesuaikan dengan situasi di bawah laut. Tim SAR harus menyeimbangkan kebutuhan untuk menemukan korban dengan keselamatan personel yang melakukan penyelaman. Karena itu, setiap tindakan di sekitar bangkai kapal dilakukan berdasarkan kondisi lapangan dan tingkat keamanan bagi penyelam.
Di tengah upaya tersebut, proses identifikasi juga terus berjalan untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban yang telah ditemukan. Sementara itu, pencarian terhadap 64 orang yang masih dinyatakan hilang akan terus dilakukan oleh tim gabungan sesuai perkembangan operasi.
Tragedi KM Virgo Transport 8 dengan demikian tidak hanya menyisakan proses pencarian korban, tetapi juga rangkaian penanganan yang mencakup evakuasi, identifikasi, pengelolaan bangkai kapal, hingga penyelidikan kecelakaan. Seluruh proses tersebut masih berlangsung dan perkembangan terbaru di lapangan menjadi dasar bagi tim gabungan untuk menentukan langkah berikutnya.(*HA/RED)
