Menkomdigi perkuat perlindungan anak digital
JAKARTA, GOLANNUSANTARA.COM– Menkomdigi Perkuat Perlindungan Anak Digital melalui peluncuran Digital Wellbeing Guidebook. Panduan ini membantu orang tua mendampingi anak saat menggunakan internet dan media sosial. Pemerintah juga ingin memperkuat literasi digital keluarga di Indonesia.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak di ruang digital. Pernyataan itu disampaikan saat peluncuran Digital Wellbeing Guidebook yang diinisiasi YouTube di Garuda Spark. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan anak di era digital.
Perkembangan teknologi digital menghadirkan banyak peluang positif bagi anak-anak Indonesia. Akses informasi kini lebih mudah dijangkau. Proses belajar juga semakin fleksibel. Berbagai platform digital bahkan mampu mendukung kreativitas generasi muda. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru yang perlu mendapat perhatian serius.
Menurut Meutya Hafid, orang tua memiliki peran utama dalam menjaga keamanan anak saat menggunakan internet. Ia menilai pendampingan keluarga menjadi fondasi penting agar anak dapat memanfaatkan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
“Kita melihat masih banyak orang tua yang bertanya bagaimana mendampingi anak menggunakan media sosial, bagaimana menyikapi gim daring, dan bagaimana menjaga mereka tetap aman di ruang digital. Oleh karena itu, kami meluncurkan buku panduan ini,” ujar Meutya.
Pemerintah menilai penggunaan teknologi digital pada anak tidak bisa dilepaskan dari pengawasan keluarga. Ruang digital kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Kehadiran media sosial, platform video, dan gim daring membuat anak semakin dekat dengan internet sejak usia dini. Kondisi ini mendorong pentingnya edukasi bagi orang tua.
Meutya menegaskan bahwa tugas orang tua tidak hanya melindungi anak di lingkungan fisik. Orang tua juga perlu memastikan keamanan anak saat beraktivitas di dunia maya. “Jika dunia digital adalah rumah baru bagi anak-anak kita, maka kita juga harus menjaga pintu dan jendelanya,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keamanan digital kini menjadi bagian penting dalam pola pengasuhan modern. Orang tua perlu memahami aktivitas anak di lingkungan nyata maupun di internet. Ancaman seperti cyberbullying, paparan konten negatif, penipuan digital, dan kecanduan media sosial harus diantisipasi bersama.
Peluncuran Digital Wellbeing Guidebook juga menjadi bagian dari implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026. Regulasi itu mengatur pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 mengenai Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS.
Regulasi tersebut menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Pemerintah ingin memastikan setiap penyelenggara sistem elektronik memiliki tanggung jawab dalam menciptakan internet yang aman bagi anak. Melalui kebijakan ini, berbagai platform digital diharapkan meningkatkan fitur keamanan dan pengawasan konten.
Dalam kesempatan yang sama, YouTube menyampaikan komitmennya untuk mendukung upaya pemerintah. Platform tersebut ingin meningkatkan literasi digital keluarga melalui panduan praktis bagi orang tua dan pendidik.
“Peluncuran Digital Wellbeing Guidebook ini merupakan bentuk tanggung jawab YouTube sebagai platform digital untuk mendukung edukasi orang tua, sehingga implementasi regulasi perlindungan anak dapat berjalan lebih efektif di tingkat keluarga,” ujar perwakilan YouTube.
Digital Wellbeing Guidebook disusun melalui kolaborasi berbagai pihak. Penyusunannya melibatkan YouTube, Kementerian Komunikasi dan Digital, Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), serta sejumlah pakar terkait. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perlindungan anak di ruang digital membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Keterlibatan akademisi dan tenaga kesehatan dinilai penting karena penggunaan teknologi digital dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Para pakar memberikan masukan mengenai penggunaan internet yang sehat. Mereka juga membahas pengaturan waktu layar dan cara membangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.
Panduan tersebut diharapkan menjadi referensi praktis bagi keluarga Indonesia. Banyak orang tua masih kesulitan memahami perkembangan aplikasi digital yang digunakan anak. Sebagian orang tua bahkan belum memahami cara mengawasi aktivitas digital tanpa mengganggu privasi anak.
Karena itu, keberadaan buku panduan ini dianggap penting. Panduan tersebut membantu orang tua memahami langkah pendampingan yang tepat. Isinya mencakup edukasi media sosial, pengawasan aktivitas daring, pengaturan waktu penggunaan gawai, hingga cara mengenali ancaman digital terhadap anak.
Panduan ini juga dapat digunakan oleh pendidik di lingkungan sekolah. Guru memiliki peran besar dalam memberikan pemahaman mengenai etika berinternet dan keamanan data pribadi. Kerja sama antara sekolah dan keluarga diharapkan mampu memperkuat perlindungan anak di ruang digital.
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan perlindungan anak tidak bertujuan membatasi akses teknologi. Regulasi tersebut justru dirancang agar anak tetap dapat memperoleh manfaat positif dari perkembangan digital tanpa menghadapi risiko berbahaya.
Meutya Hafid menyampaikan bahwa teknologi seharusnya menjadi sarana pendukung perkembangan anak. Teknologi tidak boleh menjadi ancaman bagi masa depan mereka. Karena itu, pemerintah terus mendorong terciptanya ekosistem digital yang aman dan ramah anak.
Transformasi digital di Indonesia membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Anak-anak kini tumbuh di tengah lingkungan yang dekat dengan teknologi. Aktivitas belajar, hiburan, dan komunikasi sehari-hari banyak dilakukan melalui perangkat digital. Kondisi ini membuat literasi digital menjadi kebutuhan penting bagi keluarga.
Di sisi lain, peningkatan penggunaan internet pada anak memunculkan kekhawatiran baru. Keamanan data pribadi dan paparan informasi yang belum sesuai usia menjadi perhatian utama. Banyak pihak menilai anak berpotensi mengalami dampak negatif jika tidak mendapat pendampingan yang baik.
Karena itu, pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan terus memperkuat edukasi literasi digital di Indonesia. Program seperti Digital Wellbeing Guidebook diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ruang digital yang aman bagi generasi muda.
Peluncuran panduan ini menunjukkan bahwa perlindungan anak di era digital tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Perusahaan teknologi, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan keluarga memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan internet yang sehat bagi anak-anak Indonesia.
Melalui panduan tersebut, pemerintah berharap orang tua memiliki bekal yang lebih baik dalam mendampingi anak menghadapi perkembangan dunia digital. Kehadiran Digital Wellbeing Guidebook diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat perlindungan anak dan meningkatkan kualitas literasi digital keluarga Indonesia.(*ORJ/RED)
