TNI dan BMKG Atasi Karhutla (Dok.TVRINews, Jakarta)
WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Modifikasi Cuaca Karhutla menjadi langkah strategis yang digencarkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sejumlah kementerian dan lembaga terkait untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Operasi ini dilakukan melalui pengerahan pesawat untuk mendukung penyemaian bahan tertentu ke atmosfer serta patroli udara guna memantau kondisi wilayah terdampak. Upaya tersebut merupakan bagian dari koordinasi lintas instansi dalam memperkuat penanganan karhutla yang membutuhkan respons cepat dan terarah.
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Posko Terpadu Operasi Modifikasi Cuaca, Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Operasi ini melibatkan unsur pertahanan, lembaga meteorologi, penanggulangan bencana, kehutanan, serta riset dan inovasi. Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berupaya mengoptimalkan dukungan teknologi dan sumber daya udara untuk membantu mengendalikan dampak kebakaran hutan dan lahan.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa pembentukan desk gabungan merupakan tindak lanjut dari direktif Presiden. Tim tersebut melibatkan TNI, BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Setelah melalui persiapan dalam waktu singkat, operasi mulai berjalan pada 18 Oktober 2026 di dua provinsi yang menjadi sasaran penanganan.
“Atas direktif dari Presiden itu, minggu lalu di Mabes TNI Cilangkap dibentuklah Desk Gabungan ini beranggotakan TNI, BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan BRIN. Dengan melakukan persiapan singkat efektif mulai tanggal 18 Oktober kemarin operasi ini sudah berjalan di dua provinsi,” jelas Budi dalam keterangan yang dikutip, Kamis, 22 Oktober 2026.
Pelaksanaan operasi tersebut memperlihatkan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam menghadapi karhutla. Sebab, kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari kerusakan ekosistem hingga gangguan kesehatan masyarakat akibat asap. Oleh karena itu, penanganan tidak hanya membutuhkan upaya pemadaman di darat, tetapi juga dukungan pemantauan dan strategi berbasis kondisi atmosfer.
Dalam operasi ini, modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mendukung upaya penanggulangan karhutla. Pelaksanaannya membutuhkan perencanaan berdasarkan informasi meteorologi, kesiapan armada udara, serta koordinasi antara petugas di lapangan dan pusat operasi. Dengan dukungan tersebut, pelaksanaan misi diharapkan dapat berlangsung lebih terarah sesuai kondisi cuaca dan kebutuhan wilayah sasaran.
Wakil Ketua Desk Terpadu Operasi Modifikasi Cuaca, Marsda TNI Erson Sinaga, yang sehari-hari menjabat sebagai Pati Sahli Tk. III Intekmil Siber Panglima TNI, turut menjelaskan kesiapan armada untuk wilayah Sumatera Selatan. Menurutnya, tiga pesawat CASA telah ditempatkan untuk mendukung misi modifikasi cuaca dan patroli udara. Pengerahan armada tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan serta mendukung kegiatan operasional di wilayah yang berpotensi mengalami karhutla.
“Untuk wilayah Sumatera Selatan, kekuatan pesawat kita dalam rangka penanggulangan Karhutla, kita untuk pesawat Casa, kita sudah menempatkan tiga pesawat Casa. Untuk misi OMC, operasi modifikasi cuaca, yaitu berupa penyemayan dry ice dan juga penyemayan garam. Kemudian juga misi yang berikutnya yaitu melaksanakan patroli, patroli udara,” ujarnya.
Kesiapan tiga pesawat CASA tersebut menunjukkan bahwa operasi tidak hanya berfokus pada penyemaian bahan untuk modifikasi cuaca. Patroli udara juga menjadi bagian penting karena memungkinkan petugas memantau kondisi wilayah dari ketinggian. Informasi hasil pemantauan dapat membantu memberikan gambaran mengenai situasi di lapangan sehingga koordinasi penanganan bisa dilakukan berdasarkan perkembangan kondisi aktual.
Selain Sumatera Selatan, dukungan kekuatan udara juga disiapkan untuk wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Marsda TNI Erson Sinaga menyampaikan bahwa tiga pesawat TNI turut disiapkan untuk mendukung operasi di kawasan tersebut. Pengerahan armada ini menjadi bagian dari upaya memperluas dukungan operasional dalam menghadapi karhutla di sejumlah wilayah yang membutuhkan perhatian.
Dengan adanya penempatan pesawat di beberapa wilayah, pelaksanaan operasi diharapkan dapat menyesuaikan kebutuhan masing-masing daerah. Namun, efektivitas modifikasi cuaca tetap bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang sesuai, serta hasil analisis meteorologi. Karena itu, koordinasi antara BMKG dan unsur udara menjadi bagian penting dalam menentukan pelaksanaan misi.
Di sisi lain, penanganan karhutla memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu bentuk dukungan untuk membantu menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi upaya pengendalian kebakaran. Meski demikian, operasi ini bukan pengganti pemadaman langsung, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, ataupun pencegahan kebakaran di tingkat masyarakat dan pengelola lahan.
Upaya pencegahan tetap diperlukan karena kebakaran hutan dan lahan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi vegetasi yang kering, aktivitas manusia, serta cuaca yang mendukung penyebaran api. Oleh sebab itu, pemantauan titik panas, kesiapan personel pemadam, pengawasan kawasan rawan, dan edukasi masyarakat perlu berjalan beriringan dengan operasi modifikasi cuaca.
Sinergi antara TNI, BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan BRIN juga menjadi unsur penting dalam mendukung penanganan bencana. Setiap lembaga memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari dukungan operasional udara dan informasi cuaca hingga koordinasi penanggulangan bencana serta kajian ilmiah. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat respons terhadap kondisi yang berkembang di wilayah terdampak.
Selain mendukung upaya pengendalian karhutla, operasi ini juga memperlihatkan pentingnya pemanfaatan teknologi dan informasi dalam pengelolaan risiko bencana. Data meteorologi dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi modifikasi cuaca, sementara pemantauan udara membantu memberikan informasi tambahan mengenai situasi wilayah. Dengan pengambilan keputusan yang terkoordinasi, sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan operasional.
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan. Menghindari pembakaran untuk membuka lahan, segera melaporkan indikasi kebakaran, serta mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung upaya pemerintah. Partisipasi masyarakat menjadi semakin penting ketika kondisi lingkungan rentan terhadap kebakaran.
Secara keseluruhan, penguatan Operasi Modifikasi Cuaca di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan menjadi bagian dari langkah terpadu pemerintah dalam menangani karhutla. Dengan melibatkan berbagai lembaga dan menyiagakan armada udara, operasi ini diarahkan untuk mendukung penanganan kebakaran melalui pendekatan meteorologi dan pemantauan wilayah. Keberhasilannya tetap memerlukan evaluasi berkelanjutan, kondisi cuaca yang mendukung, serta pelaksanaan langkah pencegahan dan pemadaman secara bersamaan.
Melalui koordinasi yang berkesinambungan, pemerintah diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi karhutla sekaligus mengurangi risiko dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut, dengan dukungan berbagai pihak yang bekerja sesuai tugas dan kewenangannya.(*HA/RED)
