BNPB Perkuat Penanganan Karhutla Sumsel
WWW.GOLANNUSANTARA.COM – BNPB kerahkan 11.567 personel dan sembilan armada udara untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Pengerahan tersebut dilakukan bersama Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Sumatera Selatan sebagai upaya mempercepat pemadaman, menekan kemunculan titik api, serta mencegah risiko kabut asap di tengah puncak musim kemarau dan fenomena El Nino 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama seluruh unsur Satgas Karhutla terus mengintensifkan operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Upaya tersebut dilakukan melalui operasi darat dan udara yang berjalan secara terpadu. Selain itu, pemantauan kondisi wilayah juga terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan titik panas dan memastikan area yang telah terbakar dapat ditangani secara menyeluruh.
Pengerahan personel dan peralatan tersebut dilakukan karena kondisi musim kemarau meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Terlebih, fenomena El Nino 2026 turut menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi dalam penanganan karhutla. Kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar sehingga diperlukan respons cepat dari seluruh unsur yang terlibat.
Sebanyak 11.567 personel gabungan diterjunkan ke sejumlah wilayah yang terdampak kebakaran. Personel tersebut terdiri atas TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Basarnas, Masyarakat Peduli Api (MPA), sektor swasta, dan relawan. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja sama lintas lembaga dan partisipasi masyarakat.
Selanjutnya, penguatan jumlah personel dilakukan untuk menghadapi berbagai kendala yang ditemukan di lapangan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran. Beberapa wilayah yang terbakar tidak mudah dijangkau sehingga proses pemadaman membutuhkan strategi khusus serta dukungan peralatan yang memadai.
Selain akses, keterbatasan sumber air juga menjadi persoalan dalam proses pemadaman. Oleh karena itu, petugas harus mengoptimalkan berbagai metode penanganan, baik melalui operasi darat maupun dukungan pemadaman dari udara. Dengan koordinasi yang dilakukan secara berkelanjutan, setiap titik kebakaran diharapkan dapat segera ditangani sebelum meluas.
Tidak hanya mengandalkan personel di darat, BNPB juga menyiagakan sembilan armada udara dari total 32 armada nasional untuk mendukung penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Armada tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pemantauan kondisi wilayah, pemetaan titik panas, hingga pemadaman melalui water bombing.
Penggunaan armada udara menjadi penting karena dapat membantu petugas memperoleh gambaran kondisi kebakaran dari wilayah yang lebih luas. Dengan pemantauan melalui udara, titik api yang sulit terlihat atau dijangkau dari darat dapat lebih cepat diketahui. Setelah titik api teridentifikasi, informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi Satgas Karhutla untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Selain pemantauan dan pemadaman, BNPB juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanganan karhutla. Operasi tersebut menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan dan telah menyelesaikan 27 sortie penerbangan dengan menyemai sekitar 27.000 kilogram bahan semai.
Operasi Modifikasi Cuaca menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mendukung upaya pengendalian karhutla selama kondisi musim kemarau. Melalui operasi tersebut, pemerintah berupaya menciptakan kondisi cuaca yang dapat membantu meningkatkan potensi hujan di wilayah sasaran. Dengan demikian, kondisi lahan diharapkan menjadi lebih lembap sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
Sementara itu, operasi patroli udara juga terus dilakukan untuk memantau titik panas. Patroli tersebut menggunakan helikopter AS365 N2 dan pesawat Cessna 208B. Hingga saat ini, operasi patroli udara tersebut telah mencatat lebih dari 439 jam terbang.
Patroli udara dilakukan untuk memetakan titik panas sekaligus memantau perkembangan kebakaran di wilayah Sumatera Selatan. Dengan pemantauan secara berkala, petugas dapat mengetahui perubahan kondisi di lapangan dan menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih cepat.
Berdasarkan data pemantauan hingga 30 Agustus 2026, masih terdapat 67,06 hektare area di Sumatera Selatan yang membutuhkan pemadaman dan pemantauan secara ketat. Dari hasil patroli udara, terdeteksi 11 titik api dengan luas sekitar 45 hektare.
Sementara itu, pengecekan yang dilakukan oleh Satgas Darat menemukan area terdampak dengan luas sekitar 22,06 hektare. Data tersebut menjadi bagian dari evaluasi penanganan karhutla sekaligus dasar untuk menentukan langkah lanjutan di lapangan.
Untuk mendukung proses pemadaman dari udara, sejumlah helikopter juga telah dikerahkan. Helikopter Blackhawk, MI-8, dan Super Puma telah melaksanakan lebih dari 237 sortie water bombing. Operasi tersebut difokuskan di sejumlah wilayah yang membutuhkan penanganan, seperti Tulung Selapan, Rantau Bayur, Sungai Rotan, dan Lalan.
Water bombing dilakukan sebagai salah satu metode untuk menjangkau area kebakaran yang sulit diakses oleh personel darat. Air dijatuhkan dari udara ke lokasi yang terbakar dengan harapan dapat membantu memadamkan api secara lebih cepat. Namun, metode tersebut tetap dilakukan bersamaan dengan operasi darat agar proses pemadaman dapat berjalan secara maksimal.
Operasi gabungan yang dilakukan oleh BNPB dan Satgas Karhutla menunjukkan hasil positif. Lahan seluas 18,36 hektare berhasil dipadamkan melalui kombinasi operasi darat dan udara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,5 hektare dipadamkan melalui water bombing, sedangkan 15,86 hektare lainnya ditangani melalui operasi darat.
Hasil tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya peran personel yang berada di lapangan. Setelah proses pemadaman dari udara dilakukan, Satgas Darat tetap memiliki tugas penting untuk memastikan tidak terdapat bara yang berpotensi menimbulkan kebakaran kembali.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan bahwa hasil operasi pemadaman di Sumatera Selatan menunjukkan pentingnya peran Satgas Darat dalam menangani kebakaran hutan dan lahan.
“Hasil operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan membuktikan bahwa Satgas Darat yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, Basarnas, relawan, dan sektor swasta menjadi kekuatan utama dan harus semakin ditingkatkan kekuatannya,” ujar Suharyanto Selasa, 1 September 2026.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan Satgas Darat menjadi bagian penting dalam keseluruhan strategi penanganan karhutla. Personel di lapangan tidak hanya bertugas memadamkan api, tetapi juga melakukan pemantauan, pendinginan, serta memastikan kondisi lahan tetap aman setelah kebakaran berhasil dikendalikan.
Saat ini, Satgas Karhutla masih memfokuskan operasi pada tahap pendinginan di area seluas 48,7 hektare. Tahap pendinginan menjadi penting karena api yang terlihat telah padam belum tentu berarti seluruh sumber panas di dalam tanah sudah hilang.
Kondisi tersebut terutama menjadi perhatian di kawasan lahan gambut. Karakteristik lahan gambut memungkinkan api bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila kondisi lingkungan kembali kering. Oleh sebab itu, petugas perlu melakukan pendinginan dan pemantauan secara berulang untuk mencegah munculnya api susulan.
Selain melakukan pemadaman dan pendinginan, BNPB juga memberikan dukungan sarana operasional kepada tujuh BPBD kabupaten dan kota terdampak di Sumatera Selatan. Bantuan tersebut diberikan untuk memperkuat kemampuan daerah dalam menghadapi dan menangani karhutla.
Tujuh daerah yang menerima bantuan tersebut adalah Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, Palembang, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, dan Ogan Komering Ilir (OKI). Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung petugas daerah agar lebih siap melakukan penanganan apabila ditemukan kebakaran baru.
Adapun sarana operasional yang disalurkan meliputi alat pelindung diri (APD) karhutla, selang, pompa jinjing, pompa bertekanan tinggi, nozzle, dan flexible tank. Peralatan tersebut diperlukan untuk mendukung kegiatan pemadaman sekaligus meningkatkan keselamatan personel selama berada di lokasi kebakaran.
Dengan adanya tambahan sarana operasional, pemerintah daerah dapat memperkuat respons terhadap kejadian karhutla di wilayah masing-masing. Terlebih, penanganan kebakaran membutuhkan kecepatan karena kondisi api dapat berubah dengan cepat, terutama ketika cuaca panas dan kering disertai angin.
BNPB bersama seluruh unsur Satgas Karhutla memastikan operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan akan terus dilakukan selama 24 jam. Operasi tersebut akan berlangsung hingga puncak musim kemarau berakhir dan seluruh titik api dapat dipadamkan.
Selain pemadaman, langkah pencegahan juga akan terus diperkuat. Patroli darat dan udara, pemantauan titik panas, pendinginan, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian dari strategi untuk mengantisipasi munculnya kembali kebakaran.
Dengan pengerahan 11.567 personel gabungan dan sembilan armada udara, penanganan karhutla di Sumatera Selatan dilakukan melalui pendekatan terpadu. Operasi tersebut melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, petugas pemadam, masyarakat, sektor swasta, dan relawan.
Pada akhirnya, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh proses pemadaman, tetapi juga kemampuan seluruh pihak dalam mencegah kebakaran kembali terjadi. Karena itu, pemantauan harus terus dilakukan selama kondisi cuaca masih meningkatkan risiko kebakaran.
Upaya tersebut diharapkan dapat menekan jumlah titik api, mempercepat pemadaman area terdampak, serta mencegah meluasnya kabut asap. Dengan operasi yang dilakukan secara berkelanjutan selama 24 jam, BNPB dan Satgas Karhutla Sumatera Selatan terus berupaya memastikan kondisi wilayah tetap terkendali hingga puncak musim kemarau berakhir.(*HA/RED)
