Petani rasakan manfaat turunnya harga pupuk
GORONTALO, GOLANNUSANTARA.COM– Harga pupuk turun 20 persen mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan petani di berbagai wilayah Indonesia. Kebijakan pemerintah yang menurunkan harga pupuk bersubsidi mampu mengurangi biaya produksi pertanian sehingga keuntungan petani meningkat secara signifikan. Kondisi tersebut juga mendorong semangat petani untuk terus meningkatkan hasil panen demi mendukung ketahanan pangan nasional.
Kebijakan pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen mulai memberikan dampak positif bagi petani di berbagai daerah. Tidak hanya menekan biaya produksi, kebijakan ini juga meningkatkan keuntungan usaha tani dan mendorong kesejahteraan petani.
Sejumlah petani dari berbagai wilayah mengaku merasakan langsung manfaat penurunan harga pupuk tersebut saat menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Forum nasional tersebut menjadi tempat bertemunya ribuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia. Mereka berbagi pengalaman mengenai berbagai kebijakan pemerintah yang memberikan manfaat bagi sektor pertanian, termasuk penurunan harga pupuk bersubsidi yang menjadi perhatian utama peserta.
Harga pupuk turun 20 persen dinilai menjadi salah satu kebijakan yang paling cepat dirasakan manfaatnya oleh petani karena biaya operasional usaha tani dapat ditekan sejak awal masa tanam. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi petani untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Hal itu juga meningkatkan kemampuan mereka dalam mengembangkan usaha pertanian secara berkelanjutan.
Yogi, petani padi dan sawit asal Aceh, menilai kebijakan itu menjadi salah satu langkah yang paling dirasakan manfaatnya oleh petani. “Terkait masalah pupuk, ini sangat luar biasa. Baru kali ini pemerintahan sekarang harga pupuk bisa turun 20 persen. Biasanya harga pupuk Urea bisa Rp150 ribu per sak, hari ini sudah sekitar Rp90 ribu. Luar biasa memang,” ujar Yogi.
Menurutnya, penurunan harga pupuk membuat biaya produksi berkurang secara signifikan sehingga keuntungan petani meningkat. Beban pengeluaran yang sebelumnya cukup besar untuk membeli pupuk kini dapat dialihkan ke kebutuhan lain. Dana tersebut digunakan untuk perawatan tanaman, pembelian benih berkualitas, maupun peningkatan teknologi pertanian agar hasil panen menjadi lebih optimal.
“Petani sangat diuntungkan kali ini. Terima kasih Bapak Presiden, dari petani Aceh,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Abdul Latif, petani asal Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Ia mengatakan harga pupuk yang lebih terjangkau sangat membantu petani di wilayah perbatasan. Menurutnya, akses terhadap pupuk bersubsidi yang lebih murah memberikan harapan baru bagi petani kecil. Mereka tetap mampu menjaga produktivitas lahan meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam kegiatan budidaya pertanian.
“Selama ini pupuk mahal. Dengan adanya subsidi yang dibantu kurang lebih 20 persen, masyarakat petani kecil merasa tertolong dengan program Pak Prabowo yang direalisasikan oleh Pak Mentan Amran Sulaiman,” ungkapnya.
Sementara itu, Nurkholis, petani asal Berau, Kalimantan Timur, menyebut penurunan harga pupuk sebagai peristiwa bersejarah yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia menilai kebijakan tersebut menjadi momentum penting. Selama bertahun-tahun harga pupuk cenderung mengalami kenaikan. Kini kondisinya berubah dan memberikan dampak langsung terhadap pendapatan petani.
“Seumur hidup saya dari kecil sampai besar, mulai bapak saya sampai hari ini, inilah sejarah. Pupuk itu harganya turun, bukan naik. Sementara harga gabah naik, harga jagung juga naik, dan BULOG menyerap hasil panen dengan baik,” ujarnya.
Menurut Nurkholis, turunnya harga pupuk yang diikuti membaiknya harga komoditas pertanian memberi dampak nyata terhadap kondisi ekonomi petani. Kombinasi biaya produksi yang lebih rendah serta meningkatnya harga jual hasil panen menciptakan keuntungan yang lebih besar. Kondisi tersebut membuat kesejahteraan petani terus meningkat di berbagai daerah.
“Berasa sekali. Petani-petani di Berau sekarang rata-rata sudah punya mobil sendiri. Saya juga sudah punya. Alhamdulillah. Ini menunjukkan petani semakin sejahtera,” katanya.
Manfaat serupa dirasakan Anandi Sari, petani asal Kabupaten Serang, Banten. Ia mengaku penurunan harga pupuk berdampak positif terhadap hasil produksi pertaniannya. Namun, ia berharap distribusi pupuk bersubsidi semakin luas hingga tingkat desa agar petani tidak lagi menanggung biaya transportasi yang tinggi. Harapan tersebut dinilai penting karena pemerataan distribusi pupuk akan memastikan seluruh petani memperoleh manfaat yang sama. Dengan begitu, petani tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk mengambil pupuk dari lokasi yang jauh.
Harga pupuk turun 20 persen juga tercermin pada berbagai indikator ekonomi pertanian yang menunjukkan adanya perbaikan kesejahteraan petani. Penurunan biaya produksi menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya pendapatan petani. Dampaknya, aktivitas pertanian semakin produktif dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
Selain dirasakan langsung oleh petani, dampak kebijakan tersebut juga tercermin pada sejumlah indikator kesejahteraan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 mencapai 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) tercatat sebesar 132,84 atau meningkat 1,95 persen.
Peningkatan NTP dan NTUP menunjukkan bahwa kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan usaha pertanian mengalami perbaikan. Indikator tersebut juga menggambarkan semakin baiknya kondisi ekonomi petani setelah berbagai kebijakan pemerintah diterapkan di lapangan.
Pada puncak PENAS XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026), Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya meningkatkan kesejahteraan petani sebagai produsen pangan nasional.
“Saudara-saudara adalah produsen pangan. Tanpa pangan tidak ada negara. Karena itu petani harus hidup dengan baik, petani harus sejahtera, dan petani harus mendapatkan keuntungan dari hasil kerjanya,” ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, berbagai kebijakan yang mampu meningkatkan pendapatan petani dinilai menjadi langkah penting. Tujuannya agar para pelaku usaha tani semakin termotivasi meningkatkan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Penurunan harga pupuk bersubsidi menjadi salah satu kebijakan yang kini diakui langsung manfaatnya oleh petani di berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Kalimantan. Kebijakan tersebut dinilai membantu meningkatkan keuntungan usaha tani sekaligus memperkuat kesejahteraan petani. Dengan biaya produksi yang semakin rendah, harga komoditas pertanian yang membaik, serta dukungan penyerapan hasil panen oleh pemerintah, sektor pertanian diharapkan terus tumbuh. Kondisi tersebut juga diharapkan mampu menciptakan kesejahteraan yang lebih merata bagi petani di seluruh Indonesia.(*ORJ/RED)
