Skip to content
Golan Nusantara

Golan Nusantara

Berita dan Informasi Seputar Nusantara

  • Beranda
  • Sejarah
  • Misteri
  • Berita
  • Informasi
  • Budaya dan Tradisi
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Tokoh
  • Wisata
  • Forum & Diskusi
Golan Video
  • Home
  • Berita
  • Kapten MT Honour 25 Masih Trauma Disandera
  • Berita

Kapten MT Honour 25 Masih Trauma Disandera

Husnul Amalia October 9, 2026
Kapten MT Honour 25

Kapten MT Honour 25 Masih Trauma.(Dok.IST)

Views: 5

WWW.GOLANNUSANTARA.COM – Kapten MT Honour 25 masih trauma setelah disandera perompak Somalia selama lima bulan. Ashari Samadikun, kapten kapal yang berhasil dipulangkan ke Indonesia, mengaku bersyukur dapat kembali berkumpul dengan keluarga. Namun, pengalaman selama berada dalam penyanderaan, termasuk menyaksikan salah seorang anak buah kapal (ABK) ditembak dan kehilangan lima kru, masih membekas dalam ingatannya. Peristiwa tersebut membuat Ashari belum dapat memastikan apakah dirinya akan kembali berlayar dalam waktu dekat.

Ashari menyampaikan pengalamannya saat berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada Kamis (8/10/2026). Ia merupakan kapten kapal MT Honour 25 yang disandera perompak Somalia sejak 21 April hingga dibebaskan pada 29 September 2026. Selama hampir lima bulan, ia bersama belasan kru menghadapi tekanan mental, keterbatasan makanan dan air, kerusakan peralatan kapal, serta ketidakpastian mengenai keselamatan mereka.

“Saya bisa pending dulu (pertimbangkan berlayar). Masih memperbaiki (perasaan), karena sampai sekarang saya belum bisa (memutuskan). Saya masih terpikirkan keluarga kru saya, terbayang-bayang kru saya, karena saya lihat dengan mata kepala (ditembak),” tutur Ashari.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembebasan sandera tidak serta-merta mengakhiri seluruh dampak yang ditimbulkan oleh aksi perompakan. Meskipun telah kembali ke tanah air, para korban masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi psikologis dan menyesuaikan diri setelah melewati situasi yang mengancam keselamatan jiwa.

Penyanderaan terhadap kapten dan kru MT Honour 25 berlangsung selama lima bulan, terhitung sejak 21 April 2026 hingga pembebasan pada 29 September 2026. Selama periode tersebut, para awak kapal harus bertahan di tengah situasi yang tidak menentu. Mereka tidak hanya menghadapi ancaman dari para perompak, tetapi juga mengalami keterbatasan kebutuhan dasar yang semakin berat seiring berjalannya waktu.

Menurut Ashari, para kru berusaha bertahan menghadapi kondisi tersebut. Namun, keadaan keluarga yang menunggu kabar di Indonesia juga menjadi beban pikiran tersendiri. Ia memahami bahwa orang-orang terdekat mereka mengalami kecemasan karena tidak mengetahui secara pasti keadaan para kru selama berada dalam penyanderaan.

“Itu yang saya sangat sedih. Semoga kita semua bisa pulang dengan selamat. Tapi Allah SWT berkehendak. Ada dua kru saya tidak bisa pulang, itu yang buat saya sampai sekarang masih terpukul,” tuturnya.

Kehilangan lima orang kru menjadi salah satu pengalaman paling menyakitkan bagi Ashari. Sebagai kapten, ia tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga bertanggung jawab memberikan arahan dan menjaga semangat seluruh anggota kapal. Karena itu, kehilangan anggota kru selama penyanderaan meninggalkan kesedihan mendalam yang masih dirasakannya setelah kembali ke Indonesia.

Ia juga menceritakan pengalaman sebelum salah seorang koki meninggal dunia. Saat itu, kru tersebut sempat meminta pertolongan dan memohon agar Ashari tetap bertahan bersamanya. Peristiwa tersebut terus membekas karena terjadi ketika seluruh awak kapal sedang menghadapi tekanan yang berat.

“Kapten tolong saya (koki), jangan pergi, jangan mati, tetap kuat,” kata Ashari menirukan ucapan koki tersebut.

Kenangan itu memperlihatkan betapa sulitnya kondisi emosional yang dialami para kru. Dalam keadaan terisolasi, mereka harus menghadapi ketakutan terhadap keselamatan diri sendiri sekaligus menyaksikan penderitaan rekan kerja yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bekerja di kapal.

Selain menghadapi ancaman keselamatan, Ashari mengungkapkan bahwa komunikasi menjadi salah satu persoalan paling berat selama penyanderaan. Pada bulan ketiga, para kru tidak lagi mendapatkan akses komunikasi seperti sebelumnya. Terputusnya hubungan dengan pihak luar membuat mereka semakin kesulitan memperoleh informasi mengenai perkembangan upaya pembebasan.

“Selama lima bulan, kami berada di atas kapal itu. Tertekan, terutama mental. Kami putus asa itu di bulan ketiga. Di bulan itu tidak ada lagi telepon, tidak ada lagi komunikasi sama sekali. Makanan sudah habis, alat generator sudah rusak semua, (peralatan) mati,” ucapnya.

Ketiadaan komunikasi memperburuk keadaan karena para kru tidak mengetahui secara pasti kapan mereka dapat dibebaskan. Dalam situasi seperti itu, harapan untuk kembali ke rumah menjadi salah satu hal yang membantu mereka bertahan. Akan tetapi, ketika kebutuhan pokok semakin terbatas dan hubungan dengan pihak luar terputus, tekanan mental yang mereka alami juga semakin besar.

Kondisi kapal turut menambah kesulitan. Kerusakan generator menyebabkan sejumlah peralatan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Selain itu, mesin produksi air tawar sempat mengalami kerusakan sehingga persediaan air bersih menjadi persoalan yang harus segera diatasi.

Ashari menjelaskan bahwa mereka sempat beberapa kali mengganti mesin motor untuk mengatasi kerusakan tersebut. Dalam kondisi yang serba terbatas, para kru berusaha mencari jalan keluar agar peralatan kapal dapat kembali beroperasi.

“Tapi Alhamdulillah, kami berdoa, kami cari jalan. Alhamdulillah ada jalan (mesin menyala),” ujarnya.

Upaya tersebut menjadi bagian dari perjuangan mereka untuk mempertahankan kehidupan selama berada di kapal. Ketika akses terhadap kebutuhan dasar semakin terbatas, kemampuan mengatasi masalah teknis menjadi sangat penting. Para kru harus berusaha memanfaatkan apa yang masih tersedia sambil menunggu kepastian mengenai pembebasan mereka.

Di tengah situasi tersebut, Ashari juga harus menjaga kondisi mental anggota kru. Ia menyadari bahwa rasa takut dan putus asa dapat semakin kuat apabila mereka kehilangan harapan. Oleh sebab itu, ia berusaha memberikan keyakinan bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk kembali pulang dengan selamat.

Selama masa penyanderaan, para perompak memberikan akses panggilan video kepada Ashari untuk menyampaikan informasi kepada Indonesia dan negara lain, termasuk memberi kabar kepada keluarganya bahwa ia masih hidup. Namun, menurut keterangannya, kru lainnya tidak memperoleh akses panggilan telepon maupun video untuk berkomunikasi langsung dengan keluarga masing-masing.

Perbedaan akses komunikasi tersebut membuat Ashari memikul beban tersendiri. Ia dapat menyampaikan kabar mengenai keselamatannya, tetapi tetap memikirkan anggota kru lain yang tidak memiliki kesempatan serupa. Dalam kondisi demikian, ketidakpastian yang dialami keluarga para kru menjadi salah satu hal yang terus membayangi pikirannya.

Kabar bahwa seseorang masih hidup memang dapat memberikan kelegaan bagi keluarga. Akan tetapi, tanpa komunikasi yang teratur dan informasi yang jelas, kekhawatiran tetap sulit dihilangkan. Situasi tersebut memperlihatkan pentingnya komunikasi dalam penanganan penyanderaan, terutama ketika korban berada jauh dari keluarga dan tidak memiliki kebebasan untuk menghubungi pihak luar.

Ashari mengungkapkan bahwa dirinya terus berusaha menyemangati seluruh anggota kapal yang berjumlah 17 orang. Ia tidak ingin rasa putus asa menguasai para kru, terlebih ketika mereka mulai merasa bahwa peluang untuk kembali ke rumah semakin kecil.

“Semangatlah yang bisa tenangkan kami. Karena, kami pikir tebusannya bukan uang sedikit. Sempat memang tidak ada komunikasi dari pemerintah, dari NGO-nya Pakistan. Hidup kami di kapal kritis, makanan dan minuman sudah kritis,” paparnya.

Ia mengakui bahwa situasi tersebut membuat mereka berada dalam kondisi yang sangat sulit. Persediaan makanan dan minuman semakin menipis, sedangkan proses pembebasan tidak memberikan kepastian yang dapat mereka pegang. Di tengah keadaan itu, dukungan antarkru menjadi salah satu kekuatan yang membantu mereka melewati hari demi hari.

“Saya merasa mungkin sampai di sini hidup kami. Mungkin sampai di sini perjuangan kami. Cuma saya tidak berani bilang sama anggota. Saya yakinkan, Insyaallah kita pulang. Makanya di situ beratnya, ketika ada yang meninggal. Tapi karena kita saling menguatkan dan pasrah hanya kepada Allah,” ucapnya lagi.

Pernyataan tersebut menggambarkan tanggung jawab emosional yang dihadapi Ashari sebagai kapten. Di satu sisi, ia juga mengalami ketakutan dan tekanan. Di sisi lain, ia merasa perlu tetap memberikan keyakinan kepada anggota kru agar mereka tidak kehilangan semangat. Peran tersebut menjadi semakin berat ketika salah seorang anggota meninggal dunia dan kondisi seluruh awak kapal berada dalam ketidakpastian.

Persoalan uang tebusan turut menjadi bagian penting dalam proses penyanderaan MT Honour 25. Menurut Ashari, para perompak pada awalnya meminta uang tebusan sebesar 7 juta dolar Amerika Serikat. Jumlah tersebut dinilai sangat besar dan sulit dipenuhi dalam waktu singkat.

Ashari mengatakan bahwa dirinya sempat berdebat dengan para perompak mengenai besarnya permintaan tersebut. Ia berusaha menjelaskan bahwa nilai tebusan yang diminta tidak sebanding dengan kemampuan finansial yang dapat diperoleh dari kapal dan muatan minyaknya.

“Saya sempat bertengkar, berargumen sama mereka, saya bilang itu mustahil. Saya jelaskan, kapal ini cuma muat segini minyaknya, harga minyak segini, harga kapal segini, itu tidak logis, tidak bakal ada yang bisa kau dibayar. Biar satu tahun, tiga tahun tidak bakalan dibayar,” katanya menirukan.

Dalam proses negosiasi berikutnya, permintaan uang tebusan tersebut turun secara bertahap. Dari awalnya 7 juta dolar AS, jumlah itu kemudian menjadi 4 juta dolar AS, dilanjutkan 3 juta dolar AS, lalu 2 juta dolar AS. Pada akhirnya, menurut penuturan Ashari, kesepakatan tercapai pada angka 1,5 juta dolar AS.

Sebagai kapten yang juga membantu komunikasi dalam proses tersebut, Ashari berupaya meyakinkan para perompak bahwa permintaan tebusan dalam jumlah besar akan sulit dipenuhi. Ia menyampaikan pertimbangan mengenai nilai kapal dan muatan minyak untuk menjelaskan alasan keberatan terhadap jumlah yang diajukan.

Meski demikian, Ashari menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui secara pasti pihak negara mana yang memenuhi atau melakukan pembayaran tebusan tersebut. Ia menyebut ada dua orang yang dikirim dalam proses itu, dengan peran yang berbeda.

“Mereka mengerti, mereka paham. Sampai diturunkan habis 1,5 juta dolar. Tapi saya tidak tahu pihak negara mana penuhi atau tidak, karena ada dua orang dikirim. Pertama itu namanya Leslie dari Inggris bagian negosiasi masalah uang. Dan satu lainnya menyediakan medical assistance sama makanan,” katanya menambahkan.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa upaya pembebasan melibatkan proses negosiasi yang tidak sederhana. Selain persoalan besarnya uang tebusan, kebutuhan medis dan makanan juga menjadi hal penting selama para kru masih berada dalam penguasaan perompak. Namun, rincian mengenai pihak yang membayar tebusan tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan keterangan Ashari.

Setelah berhasil dibebaskan pada 29 September 2026, Ashari akhirnya dapat kembali ke Indonesia dan berkumpul dengan keluarganya. Kepulangan tersebut menjadi momen yang disyukuri setelah berbulan-bulan menghadapi ancaman dan keterbatasan selama berada di kapal. Kendati demikian, pengalaman penyanderaan masih meninggalkan dampak emosional yang belum sepenuhnya pulih.

Ia mengaku belum dapat memutuskan apakah akan kembali menjalani pekerjaan sebagai pelaut dalam waktu dekat. Ingatan tentang kejadian yang menimpa rekan-rekannya, terutama anggota kru yang meninggal dunia, masih membayangi pikirannya. Karena itu, ia memilih memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk memulihkan perasaan sebelum mengambil keputusan mengenai masa depan pekerjaannya.

Trauma setelah mengalami kejadian yang mengancam keselamatan dapat memengaruhi kehidupan seseorang, termasuk cara memandang pekerjaan dan lingkungan sekitarnya. Bagi korban penyanderaan, proses pemulihan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dengan rasa aman, kestabilan emosional, serta kemampuan menghadapi kembali aktivitas sehari-hari.

Dukungan keluarga dan lingkungan terdekat dapat menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Selain itu, pendampingan psikologis profesional dapat dipertimbangkan apabila kenangan traumatis terus mengganggu tidur, konsentrasi, atau aktivitas sehari-hari. Pemulihan setiap orang berlangsung berbeda sehingga korban perlu mendapatkan ruang dan waktu sesuai dengan kebutuhannya.

Pengalaman Ashari juga memperlihatkan bahwa keselamatan awak kapal harus menjadi perhatian utama dalam aktivitas pelayaran internasional. Ancaman perompakan tidak hanya berpotensi menimbulkan kerugian material, tetapi juga dapat menyebabkan korban jiwa dan dampak psikologis jangka panjang bagi para penyintas maupun keluarga yang menunggu kepulangan mereka.

Kepulangan Ashari ke Indonesia menjadi akhir dari masa penyanderaan yang berlangsung selama lima bulan. Namun, bagi dirinya, perjalanan untuk pulih dari pengalaman tersebut masih berlangsung. Ia kini harus menghadapi proses pemulihan setelah kehilangan rekan kerja dan melewati situasi yang menguji ketahanan fisik serta mentalnya.

Di tengah rasa syukur karena dapat kembali berkumpul dengan keluarga, kesedihan atas dua kru yang tidak dapat pulang masih menjadi beban yang sulit dilupakan. Pengalaman itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pembebasan sandera bukan hanya tentang mengakhiri penahanan, melainkan juga memastikan para korban memperoleh dukungan yang diperlukan untuk melanjutkan kehidupan setelah melewati peristiwa traumatis.(*HA/RED)

Tags: ashari samadikun pelaut indonesia pembebasan sandera penyanderaan kapal perompak somalia

Post navigation

Previous Dinamika Putusan MK Ijazah Gibran: Berbagai Pihak Buka Suara
Next Menhub: Keselamatan Ojol Jadi Prioritas

Related Stories

Pleidoi Fadia Arafiq Akui Terima Uang Pejabat Pekalongan pleidoi fadia arafiq pekalongan
  • Berita

Pleidoi Fadia Arafiq Akui Terima Uang Pejabat Pekalongan

October 10, 2026
Menhub: Keselamatan Ojol Jadi Prioritas keselamatan ojol
  • Berita

Menhub: Keselamatan Ojol Jadi Prioritas

October 10, 2026
Dinamika Putusan MK Ijazah Gibran: Berbagai Pihak Buka Suara dinamika putusan mk ijazah gibran
  • Berita

Dinamika Putusan MK Ijazah Gibran: Berbagai Pihak Buka Suara

October 9, 2026

Advertising room

Cari Kampus Teologi Daerah Jakarta?

STT Lintas Budaya Jakarta Aja, Cek Yuk di

WWW.STTLINTASBUDAYA.AC.ID

iklan banner

Kirimkan iklan banner untuk promosi produk/jasa Anda yang akan ditempatkan disini.

Taq Populer

badan gizi nasional budaya indonesia budaya nusantara ekonomi kreatif iak renatus kebijakan pemerintah literasi digital pendidikan pendidikan indonesia pendidikan kristen pendidikan teologi pengabdian masyarakat polda metro jaya prabowo subianto purbaya yudhi sadewa sejarah indonesia sejarah nusantara tokoh nasional transformasi digital ubsi

Categories

  • Berita
  • Budaya dan Tradisi
  • Forum & Diskusi
  • Informasi
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Misteri
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Wisata

Relasi Backlink

Banner BlogPartner Backlink.co.idSeedbacklink

Bergabung:

  • Menjadi Penulis/Jurnalis
  • Menjadi Kordinator/ Kontributor Daerah
  • Program Digitalisasi Sekolah Lebih Profesional
  • Program Penulisan Berita Desa Nasional
  • Program UMKM Go Digital

Kerjasama:

  • Publikasi Artikel Press Release
  • Promosi Usaha
  • Publikasi Artikel Endorsement
  • Liputan Event
  • Program Afiliasi
  • Iklan Banner
  • Backlink/Content Placement
  • Jasa Advertorial

Informasi:

  • Tentang Golan Nusantara
  • Tim Redaksi
  • Kontak

Media Partner:

  • Golan Digital
  • Golan Website
  • Golan Education
Copyright © 2025 PT. Golan Digital Kreatif. All rights reserved. | By Golan Website

Disclaimer - Terms and Conditions - Privacy Policy