Sekolah baru bangkitkan semangat belajar siswa
WAKATOBI, GOLANNUSANTARA.COM– Revitalisasi SMP Maritim Mola menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan hingga wilayah pesisir dan kepulauan Indonesia. Program ini menghadirkan bangunan sekolah yang lebih aman dan nyaman. Program tersebut juga membawa harapan baru bagi guru, siswa, serta masyarakat Suku Bajo. Pendidikan tetap menjadi bekal penting untuk membangun masa depan tanpa meninggalkan identitas budaya maritim mereka. Kehadiran fasilitas yang lebih layak diharapkan meningkatkan kualitas pembelajaran. Fasilitas itu juga memperkuat motivasi peserta didik serta mendukung lahirnya generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dijalankan pemerintah menghadirkan perubahan signifikan bagi SMP Swasta Maritim Mola di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sekolah yang berada di kawasan permukiman Suku Bajo itu kini memiliki fasilitas belajar yang lebih layak. Sebelumnya, bangunan sekolah mengalami berbagai kerusakan yang mengganggu proses pembelajaran. Perubahan tersebut menjadi bagian dari pemerataan pembangunan pendidikan. Program ini tidak hanya menyasar wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah pesisir yang memiliki tantangan geografis. Dengan demikian, anak-anak memperoleh kesempatan belajar di lingkungan yang lebih aman dan berkualitas.
SMP Swasta Maritim Mola berdiri di kawasan pesisir yang menjadi permukiman masyarakat Suku Bajo. Sebelum direvitalisasi, kondisi bangunan sekolah dinilai sudah tidak layak digunakan. Atap bocor, lantai rapuh, serta struktur kayu yang mulai lapuk membuat aktivitas belajar mengajar berlangsung dengan rasa khawatir. Situasi tersebut mengurangi kenyamanan selama proses pembelajaran. Kondisi itu juga berpotensi menghambat terciptanya suasana belajar yang kondusif bagi siswa dan tenaga pendidik.
Kepala SMP Swasta Maritim Mola, Narto, mengatakan kerusakan bangunan tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan guru.
“Kondisi sekolah kami sebelumnya sudah tidak layak digunakan. Atap mengalami kerusakan, lantai sudah rapuh sehingga siswa maupun guru tidak merasa nyaman saat proses belajar mengajar. Kami khawatir kondisi tersebut membahayakan anak-anak,” ujar Narto.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi sekolah memang sudah sangat dibutuhkan. Keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Bangunan yang layak juga menjadi fondasi penting agar proses belajar berlangsung optimal. Dengan begitu, siswa dan guru tidak lagi dihantui rasa cemas akibat fasilitas yang rusak.
Ia menjelaskan, lokasi sekolah yang berada di atas kawasan perairan membuat konstruksi bangunan memiliki tantangan tersendiri. Meski demikian, sekolah tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Karakter geografis tersebut menuntut perencanaan pembangunan yang matang. Bangunan sekolah juga harus mampu bertahan menghadapi kondisi lingkungan pesisir. Hal itu penting agar seluruh warga sekolah merasa aman saat beraktivitas.
Menurut Narto, banyak siswa yang setelah pulang sekolah membantu orang tua melaut atau memancing. Karena itu, proses pendidikan harus mampu berjalan seiring dengan karakter dan budaya kemaritiman masyarakat Suku Bajo. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di wilayah pesisir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Sekolah memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang berpengetahuan. Pada saat yang sama, siswa tetap memahami nilai budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMP Swasta Maritim Mola memperoleh anggaran sekitar Rp2,96 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membangun empat ruang kelas baru, menambah ruang perpustakaan, Unit Kesehatan Sekolah (UKS), ruang administrasi, toilet, serta merehabilitasi laboratorium IPA. Peningkatan sarana dan prasarana ini diharapkan memberikan pengalaman belajar yang lebih baik. Kini siswa memiliki akses ke fasilitas yang lebih lengkap. Fasilitas tersebut mendukung kegiatan akademik sekaligus pengembangan keterampilan.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI), Gogot Suharwoto, mengatakan revitalisasi merupakan komitmen pemerintah menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, termasuk bagi sekolah-sekolah di wilayah pesisir dan kepulauan. Komitmen itu menjadi bagian dari upaya pemerataan kualitas pendidikan nasional. Dengan program ini, setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Kondisi geografis tidak lagi menjadi penghalang utama.
Menurutnya, bagi anak-anak Suku Bajo di Wakatobi, sekolah yang layak bukan sekadar bangunan baru, tetapi juga ruang untuk membangun harapan sekaligus menjaga identitas kemaritiman mereka. Keberadaan sekolah yang representatif diharapkan melahirkan generasi muda yang berkompeten. Mereka juga tetap bangga terhadap budaya maritim yang menjadi ciri khas masyarakat Suku Bajo.
Narto mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di daerah pesisir. Ia mengaku seluruh warga sekolah kini dapat merasakan manfaat nyata dari program revitalisasi tersebut. “Alhamdulillah, kami di SMP Swasta Maritim Mola benar-benar merasakan manfaat dari program revitalisasi ini,” ucapnya.
Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa program revitalisasi tidak hanya menghadirkan perubahan fisik. Program ini juga meningkatkan optimisme seluruh warga sekolah. Semangat itu menjadi modal untuk menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Perubahan itu juga dirasakan guru Pendidikan Agama Islam, Hangki. Ia mengungkapkan, sebelum direnovasi, beberapa ruang kelas mengalami kerusakan berat sehingga pihak sekolah harus membagi satu ruangan menjadi dua ruang belajar. Kondisi tersebut membuat pembelajaran kurang efektif. Keterbatasan ruang juga mengurangi kenyamanan guru dan siswa saat belajar mengajar.
Selain itu, atap yang bocor, lantai berlubang, dinding retak, minimnya pencahayaan, dan sirkulasi udara yang kurang baik membuat proses pembelajaran tidak berjalan optimal. Berbagai keterbatasan itu menjadi tantangan yang dihadapi warga sekolah setiap hari. Kondisi tersebut berlangsung sebelum program revitalisasi dilaksanakan pemerintah.
Kini, dengan ruang kelas yang lebih representatif serta tersedianya laboratorium dan perpustakaan, para guru memiliki semangat baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Fasilitas yang lebih baik memberi kesempatan kepada tenaga pendidik untuk mengembangkan metode belajar yang lebih kreatif dan interaktif. Pembelajaran juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
“Dengan revitalisasi ini kami merasakan perubahan yang besar. Sarana dan prasarana yang lebih baik membuat kami lebih bersemangat menghadirkan pembelajaran yang aman, nyaman, dan bermutu,” ungkap Hangki.
Semangat baru para guru diharapkan memberi dampak positif terhadap prestasi belajar siswa. Lingkungan belajar yang nyaman menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Manfaat revitalisasi juga dirasakan para siswa. Siswi kelas IX, Nining Wardani, mengaku sebelumnya merasa khawatir saat belajar karena kondisi bangunan yang rusak.
“Dulu banyak lubang di lantai dan kayunya sudah mulai rapuh. Kami sering merasa takut saat belajar,” kata Nining. Pengalaman tersebut menggambarkan kondisi sekolah sebelum dilakukan revitalisasi. Kehadiran fasilitas baru kini memberikan rasa aman yang selama ini diharapkan para siswa.
Kini, menurut Nining, suasana sekolah jauh lebih nyaman sehingga membuat siswa lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar. “Sekarang sekolah lebih nyaman dan kami sudah tidak takut lagi. Saya berharap pendidikan di kampung kami semakin maju,” tambahnya.
Harapan para siswa menunjukkan bahwa revitalisasi sekolah tidak hanya menghadirkan bangunan baru. Program ini juga meningkatkan motivasi belajar. Dengan fasilitas yang lebih baik, siswa semakin percaya diri untuk meraih cita-cita melalui pendidikan yang berkualitas.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2025, sebanyak 348 sekolah di Provinsi Sulawesi Tenggara telah mendapatkan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Jumlah tersebut terdiri atas 29 PAUD, 136 SD, 94 SMP, dan 89 SMA. Sementara di Kabupaten Wakatobi, program ini telah menjangkau 13 sekolah, meliputi tujuh SD, tiga SMP, dan tiga SMA. Data tersebut menunjukkan bahwa pemerintah terus memperluas pemerataan pembangunan infrastruktur pendidikan di berbagai daerah. Upaya itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Lingkungan belajar yang aman dan nyaman menjadi bagian penting dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional.(*ORJ/RED)
